Kemerdekaan RI
5 Tokoh Pahlawan Nasional yang Berperan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari perjuangan pahlawan nasional, berikut sosok 5 tokoh pahlawan yang berperan terhadap kemerdekaan Indonesia.
Penulis:
Oktaviani Wahyu Widayanti
Editor:
Febri Prasetyo
TRIBUNNEWS.COM - Kemerdekaan Indonesia dirayakan setiap satu tahun sekali pada 17 Agustus.
Hari kemerdekaan Indonesia merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Mengutip dari kemdikbud.go.id, kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan pertama kali pada 17 Agustus 1945 pada pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.
Kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi berkat perjuangan para pahlawan nasional.
Berikut Tribunnews merangkum 5 sosok tokoh pahlawan Indonesia yang berperan terhadap kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Twibbon HUT Kemerdekaan RI Ke-80 yang Diperingati 17 Agustus 2025, Cocok untuk Diunggah di Medsos
5 Tokoh Pahlawan Nasional yang Berperan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
1. Ir. Soekarno
Ir. Soekarno, atau yang lebih akrab disebut Bung Karno, adalah Presiden pertama Republik Indonesia.
Presiden pertama Indonesia ini, lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901.
Sebagai salah satu proklamator, Soekarno memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, bahkan sejak masa mudanya.
Ketika berusia 14 tahun, ia sudah bergabung dengan organisasi Jong Java ketika bersekolah di HBS Surabaya.
Dalam perjalanan perjuangannya, Soekarno beberapa kali dipenjara oleh Belanda.
Salah satunya pada 29 Desember 1929, ketika ia ditangkap karena aktif dalam gerakan perlawanan melalui Partai Nasional Indonesia (PNI) dan kelompok studi intelektual Algemeene Studie Club (ASC).
Ia dipenjara di Banceuy, lalu dipindahkan ke Sukamiskin, dan baru bebas pada 31 Desember 1931.
Selain itu, Bung Karno juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang merumuskan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.
2. Mohammad Hatta
Mohammad Hatta atau akrab juga disapa Bung Hatta adalah wakil presiden Indonesia pertama kali yang memiliki peran penting dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sang proklamator ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Bung Hatta merupakan negarawan intelektual yang mendampingi Ir. Soekarno memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari jajahan Belanda.
Ia dikenal sebagai aktivis dan organisatoris saat bersekolah di Belanda.
Mohammad Hatta banyak melakukan perlawanan terhadap belanda melalui tulisan-tulisan yang terbit dalam surat kabar atau majalah-majalah.
Karena tulisan kritikan itulah Mohammad Hatta sempat diasingkan oleh pemerintahan kolonial ke Boven Digul yang terletak di Irian, sebuah wilayah pembuangan.
Gagasan dalam tulisannya tentang kemerdekaan Indonesia sangat tajam dan dapat membangkitkan semangat anak muda bangsa untuk melakukan perlawanan ketidakadilan Belanda.
Mohammad Hatta banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran besar untuk membangun bangsa Indonesia.
Contohnya pemikiran tentang demokrasi Indonesia pada tahun 1928-1960 dan bahkan ia juga dijuluki sebagai bapak koperasi karena ia adalah tokoh yang pertama kali mengenalkan pemikiran tersebut.
Baca juga: 50 Ide Nama Kelompok MPLS yang Unik: Berupa Singkatan, Nama Pahlawan, hingga Bertema Islami
3. Bung Tomo
Sutomo atau akrab juga disapa Bung Tomo adalah pahlawan nasional Indonesia.
Ia lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya dan tumbuh di dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan.
Bung Tomo berperan penting dalam pertempuran di Surabaya 10 November 1945 yang kemudian sekarang kita peringati sebagai hari pahlawan.
Semboyan Bung Tomo yang paling populer sampai saat ini adalah “Merdeka atau Mati” menjadi semangat bangsa hingga saat ini.
Pertempuran berdarah di Suraya tersebut menjadi peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Tidak hanya kritis terhadap pemerintahan Belanda, Bung Tomo juga pernah mengkritik kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.
Ia bahkan pernah ditahan selama setahun pada tahun 1978 karena kritikannya terhadap Soeharto.
Bung Tomo merupakan seorang jurnalis asal Surabaya yang berani dan kritis dengan kepiawaiannya dalam berbahasa dan kecemerlangan gagasannya.
Dari ia berusia 18 hingga 25 tahun ia sudah terlibat di berbagai media, yakni Ekspres dan Berita Antara.
4. Ki Hadjar Dewantara
Ki Hajar Dewantara atau yang bernama lengkap Raden Soewardi Soerjaningrat adalah pahlawan nasional Indonesia.
Ia berasal dari keluarga bangsawan keraton dan menjadi aktivis pergerakan kemerdekaan.
Dia merupakan pahlawan yang memiliki peran penting dalam membangun bangsa hingga disebut sebagai bapak pendidikan Indonesia.
Ia adalah menteri pendidikan dan kebudayaan pertama Indonesia yang mendirikan sekolah bernama Perguruan Nasional Taman Siswa atau yang kita kenal sekarang Taman Siswa.
Ki Hajar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta yang kemudian tanggal lahirnya saat ini kita peringati sebagai Hari pendidikan.
Sebelumnya ia adalah seorang penulis dan jurnalis yang kritis sehingga ia terjun sebagai aktivis kebangsaan.
Hal itulah yang membuatnya sadar untuk melawan kolonialisme dengan pemikirannya dalam dunia pendidikan.
Semboyannya yang paling populer hingga saat ini adalah Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ini terus menjadi semangat bangsa untuk menjadi lebih baik di bidang pendidikan.
5. R.A Kartini
Raden Ajeng (R.A) Kartini adalah salah satu pahlawan nasional wanita yang berjasa dalam perjuangan bangsa Indonesia.
Ia lahir pada 21 April 1879 di Jepara yang kemudian saat ini kita memperingati hari tersebut sebagai Hari Kartini.
Kartini memiliki peran penting dalam pemikiran-pemikiran membangun bangsa indonesia, yakni perjuangannya untuk para perempuan Indonesia memperoleh ruang yang lebih berarti daripada sebelumnya.
Emansipasi Wanita yang diperjuangkan Kartini sangat berharga hingga saat ini.
Pemikiran-pemikiran Kartini tersebut tertulis dalam surat-surat yang ia tulis untuk temannya di Belanda.
Kemudian tulisan-tulisan tersebut disusun menjadi buku dengan judul Door Duisternis Tot Licht yang saat ini versi terjemahannya populer dengan judul Dari Gelap Menuju Cahaya yang terbit pertama kali pada tahun 1911.
Baca juga: 23 Daftar Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah, Punya Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Mengutip dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, sejarah proklamasi Kemerdekaan bermula sejak adanya upaya Sekutu yang sempat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945, serta di Nagasaki pada 3 hari kemudian.
Karena peristiwa tersebut Kaisar Hirohito menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.
Setelah peristiwa tersebut, golongan muda yang mengetahui kabar itu dari siaran Radio BBC milik Inggris mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera menyatakan proklamasi.
Tetapi pada saat itu dwitunggal menolak karena belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Jepang.
Lalu golongan tua berpendapat, lebih baik menunggu sampai 24 Agustus, yakni tanggal yang ditetapkan Marsekal Terauchi untuk waktu kemerdekaan Indonesia, ketika menerima Soekarno-Hatta-Radjiman di Dalat.
Kemudian pada 15 Agustus 1945, para pemuda dibawah pimpinan Sukarni, Chairul Saleh, Wikana bersepakat untuk mengamankan dwitunggal bersama Ibu Fatmawati dan Guntur ke Rengasdengklok, dengan harapan agar mereka menuruti keinginan para pemuda.
Setelah sehari diamankan di Rengasdengklok, ternyata kesepakatan masih tidak tercapai.
Hingga pada akhirnya Ahmad Soebardjo datang dan berusaha membujuk para pemuda untuk melepaskan dwitunggal.
Kemudian para golongan muda bersedia melepaskan golngan tua dengan jaminan bahwa Soebardjo memastikan proklamasi akan terjadi pada esok harinya.
Kemudian pada malam harinya, rombongan berangkat ke Jakarta, menuju rumah Laksamana Maeda di Meiji Dori No. 1 untuk membahas masalah tersebut.
Setelah tiba di rumah Laksamana Maeda, mereka menjelaskan permasalahan dan informasi yang sebenarnya terjadi.
Kemudian Laksamana Maeda lalu mempersilakan tiga orang tokoh untuk menemui Gunseikan (Kepala Pemerintah Militer) Jenderal Moichiro Yamamoto untuk membahas upaya tindaklanjut yang akan dilakukan.
Tetapi sayangnya, setibanya di Markas Gunseikan di kawasan Gambir, mereka bertiga mendapat jawaban yang mengecewakan karena Jenderal Nishimura yang mewakili Gunseikan melarang segala bentuk upaya perubahan situasi yang dilakukan dan mereka diharuskan menunggu Sekutu datang terlebih dahulu.
Lalu, ketiga tokoh bersepakat bahwa Jepang tidak dapat diharapkan lagi dan kemerdekaan harus segera dirancang.
Kemudian seluruh anggota PPKI dikawal oleh Sukarni dan kawan-kawan menuju rumah Laksamana Maeda.
Keesokan harinya pada 17 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, naskah proklamasi disusun oleh Soekarno, Hatta dan Soebardjo.
Naskah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusun sebanyak dua alinea selesai dibuat dalam waktu 2 jam.
Naskah proklamaasi yang sudah selesai disusun kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.
Tanpa waktu lama, Sayuti Melik didampingi BM Diah lalu mengetik naskah proklamasi.
Setelah selesai diketik, naskah teks Proklamasi diserahkan kembali kepada Soekarno untuk ditandatangani.
Akhirnya pada Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, di halaman rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, naskah proklamasi dibacakan dalam suasana khidmat.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno dan Drs. Mohammada Hatta.
Sejak saat itu hari kemerdekaan Indonesia diperingati tiap tanggal 17 Agustus hingga saat ini.
(Tribunnews.com/Oktavia WW)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.