Pangi Syarwi Chaniago Sentil Pejabat Suka Buat Onar: Jangan Jadi Beban Presiden!
Pengamat politik menyentil soal pejabat yang suka membuat onar, ia berharap upaya Presiden untuk mengangkat citra politik negeri tak jadi sia-sia
Penulis:
Galuh Widya Wardani
Editor:
Tiara Shelavie
Termasuk munculnya keluhan anggota DPR Nafa Urbach soal jalanan di jalur Bintaro–Senayan macet.
Ia mengaku merasa terganggu dengan kondisi lalu lintas yang padat dan membuat perjalanan menjadi tidak nyaman.
Alih-alih mendapat simpati, keluhan tersebut memicu kritik terhadap citra DPR yang dianggap lebih mementingkan kenyamanan pribadi ketimbang memahami kesulitan masyarakat.
Publik lantas memperbandingkannya dengan penderitaan jutaan pekerja yang setiap hari harus berdesakan di kereta komuter (KRL) tanpa fasilitas memadai.
Dirinya pun menjadi sorotan publik setelah melontarkan keluhan soal kemacetan itu.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi pernyataan anggota DPR yang kerap dianggap "tidak nyambung" dengan aspirasi rakyat.
Pernyataan lain yang kontroversial yakni soal pemblokiran rekening nganggur yang menimbulkan keresahan.
Lalu soal polemik pemberian izin tambang di kawasan wisata kelas dunia, Raja Ampat, pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang menyebukan gaji guru dan dosen menjadi beban negara.
Menteri Kesehatan berkomentar “celana ukuran 33 cepat meninggal” dan “gaji Rp15 juta pasti sehat dan pintar”.
Kebijakan dan pernyataan para ejabat publik ini seringkali dianggap ngawur, tidak sensitif dan melukai perasaan rakyat.
Kontroversi memuncak ketika anggota DPR Sahroni menyebut usulan pembubaran DPR sebagai pendapat “orang tolol sedunia.”
Ucapan ini justru memicu aksi demonstrasi rakyat ke DPR.
"Pesan rakyat jelas, jangan sekali-kali menantang suara rakyat. Itu sama dengan masuk ke pusaran air-cepat atau lambat pasti tenggelam," ujar Pangi.
Untuk itu, ia meminta para pejabat agar tidak sibuk “flexing,” menari-nari, atau melempar komentar ngawur.
"Rakyat butuh pejabat yang peka terhadap penderitaan rakyat, berpikir sebelum berbicara, fokus bekerja, bukan membuat drama lalu meminta maaf."
"Berhentilah berpolemik. Berhentilah melukai hati rakyat. Dengarkan suara rakyat, jangan abaikan penderitaan rakyat," kata Pangi.
(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.