AI dan Jurnalisme: Antara Efisiensi Teknologi dan Risiko Etika
Inilah pemanfaatan Kecerdasan buatan (AI) dalam produk jurnalistik. Termasuk untuk transkripsi, ringkasan, ide konten, maupun outline.
TRIBUNNEWS.COM - Kecerdasan buatan (AI) dinilai bisa berperan dalam mendukung jurnalisme yang etis, transparan, dan bertanggung jawab.
Namun, penggunaannya tidak seharusnya menggantikan peran penilaian manusia serta kemampuan berpikir kritis yang menjadi inti dari pelaporan yang dapat dipercaya. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu dalam pekerjaan ruang redaksi, bukan sebagai pengganti.
Asosiasi Radio Television Digital News Association (RTDNA) menekankan pentingnya setiap organisasi berita memiliki kebijakan jelas terkait penggunaan AI, baik dalam proses peliputan, penyuntingan, maupun distribusi konten di berbagai platform.
Integrasi teknologi ini harus dipertimbangkan secara hati-hati karena menyentuh prinsip dasar jurnalisme seperti akurasi, konteks, kepercayaan, dan keterbukaan. Mengingat perkembangan AI yang cepat, evaluasi rutin terhadap pedoman penggunaannya sangat diperlukan.
Kemampuan AI dalam memodifikasi konten berupa audio, video, gambar, hingga teks dapat memberikan nilai tambah bagi media, mengutip laman RTDNA.
RTDNA sendiri merupakan organisasi profesional terbesar di dunia yang ditujukan khusus untuk jurnalisme siaran dan digital.
Meski demikian, risiko seperti penyajian fakta yang keliru atau minimnya konteks juga bisa menyesatkan audiens jika tanpa aturan yang bijak.
Oleh karena itu, transparansi dalam pemanfaatan AI menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.
Selain itu, wartawan secara tradisional sudah terbiasa menyeimbangkan hak publik untuk mengetahui dengan perlindungan privasi individu.
Hal ini sulit dilakukan oleh AI tanpa arahan yang tepat. Maka dari itu, penting memastikan teknologi tersebut dirancang sesuai prinsip etika dan hukum, agar penggunaannya tidak melanggar privasi maupun hak-hak dasar lainnya.
Lantas Bagaimana AI Meningkatkan Penulisan Berita?
Baca juga: Dua Jurnalis Buta Warna Gugat UU Lalu Lintas, Usul Lampu Hijau Diganti Biru Seperti di Jepang
Salah satu cara yang semakin umum bahwa kita melihat AI digunakan dengan jurnalisme dan berita adalah dengan penulisan berita otomatis.
Sistem AI benar-benar pandai mengambil sejumlah besar data, menggabungkannya, dan kemudian mensintesis output yang dibuat dengan baik dalam berbagai nada.
Dalam artikel yang ditayangkan Forbes, dikutip Tribunnews, Kamis (18/9/2025), telah ada peningkatan penggunaan output ini untuk meningkatkan liputan topik berita yang sebaliknya tidak akan memiliki banyak cakupan karena kurangnya staf pelaporan dan sumber daya.
Misalnya, sistem AI mencakup politik lokal seperti rapat dewan pendidikan, hasil olahraga sekolah menengah dan regional, dan laporan keuangan dan cuaca bentuk naratif.
Keraguan utama dalam menggunakan AI untuk menghasilkan output ini adalah dua kali lipat: kerentanan sistem AI untuk berhalusinasi dan mendapatkan fakta yang salah, dan penggantian staf jurnalis manusia dengan sistem mesin otomatis.
Salah satu cara untuk mendekati konsep berita yang dihasilkan AI adalah dengan memisahkan pelaporan “usaha rendah” dari fakta-fakta yang terutama didorong oleh data, seperti keuangan dan olahraga dari pelaporan yang lebih bernuansa, opini atau investigasi yang membutuhkan keterampilan jurnalistik.
Untuk yang pertama, keterampilan jurnalistik tidak diperlukan untuk hanya melaporkan fakta.
Namun, untuk yang terakhir, AI tidak sesuai dengan kebutuhan pelaporan mendalam dan bentuk yang lebih ketat.
Jadi, penggunaan AI dalam jurnalisme tergantung pada aplikasi.
Larangan Menggunakan AI dalam Konten
Sementara itu Jurnalis senior Merdi Sofansyah menegaskan adanya batasan dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia jurnalistik.
Hal itu ia sampaikan dalam kelas Journalism Fellowship on Corporate Social Responsibility (CSR) 2025 Batch 2 yang digelar melalui Zoom dan diikuti oleh Tribunnews, pada Senin (15/9/2025).
Menurut Merdi, AI bisa dimanfaatkan untuk mendukung kerja wartawan, seperti melakukan transkripsi, meringkas dokumen, menghasilkan ide, hingga menyusun kerangka tulisan.
Namun, ia mengingatkan agar teknologi tersebut tidak digunakan untuk praktik yang melanggar etika, seperti membuat kutipan palsu, memproduksi gambar rekayasa, atau deepfake.
"AI bisa dimanfaatkan untuk hal-hal teknis, misalnya transkripsi, ringkasan, ide konten, maupun outline," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyimpan rekam jejak atau prompt yang digunakan dalam proses pemanfaatan AI, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas.
Diketahui Journalism Fellowship on CSR Batch 2 merupakan hasil kolaborasi GWPP dan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG), dan mengajak 13 wartawan terpilih.
Kick off JFC 2025 Batch 2 digelar, Jumat (29/8/2025) di Rumah Belajar TBIG, Karawaci, Tangerang, Banten, secara hybrid.
Acara tersebut juga dihadiri Chief of Business Support Officer TBIG Lie Si An, jajaran manajemen dan CSR TBIG, serta mentor dan narasumber seperti wartawan senior Nurcholis, Jamalul Insan, dan Fransiskus Surdiasis.
Program ini berupa pelatihan teknis jurnalistik, yang berlangsung satu bulan, mulai akhir Agustus hingga awal Oktober 2025, dilaksanakan secara daring dan luring.
Lebih jauh, Nurcholis menegaskan, pers memiliki mandat strategis dalam demokrasi sebagaimana tercantum dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Bukan hanya sebagai penyampai informasi, melainkan juga pendidik publik dan pengawal kepentingan masyarakat. Di sisi lain, program CSR seperti yang dijalankan TBIG juga memiliki nilai kemanfaatan sosial yang sejalan dengan semangat pers.
“Pers dan CSR sama-sama berkhidmat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-AI-KECERDASAN-BUATAN-ARTIFICIAL-INTELLIGENCE-123da.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.