Great Institute: Reformasi Kepolisian Harus Ideologis
Reformasi Polri harus menjadikan kepolisian sebagai aparatur negara ideologis dan mendukung Pemerintahan Prabowo Subianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Dr. Syahganda Nainggolan mengatakan Reformasi Polri harus menjadikan kepolisian sebagai aparatur negara ideologis dan mendukung Pemerintahan Prabowo Subianto yang programnya sangat ideologis.
Pemerintah telah merampungkan penyusunan Komite Reformasi Kepolisian. Komite Reformasi Kepolisian akan dilantik pekan depan.
"Dibandingkan dengan rezim-rezim sebelumnya yang pragmatis, Prabowo ini Presiden yang sangat ideologis," ungkap Syahganda dalam 'Dialog Publik: Memperkuat Posisi Humas Polri dalam Mendukung Kebijakan Pemerintah untuk Terwujudnya Kamtibmas Kondusif', di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (8/10/2025).
Kebijakan Prabowo yang sangat ideologis itu ditunjukkan dengan masifnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyelesaikan persoalan stunting dan kekurangan gizi anak usia sekolah.
"Dapat dibayangkan, jika dulu program Pemerintah bersifat biasa saja, ini difokuskan semua untuk mendukung program makan bergizi," tukas Syahganda.
Syahganda mengungkap, Rezim Prabowo bahkan terlalu keras memberantas korupsi, bahkan jika dibandingkan dengan rezim-rezim sebelumnya yang sebelumnya lemah bahkan cenderung toleran soal korupsi.
"Ini mengguncang Republik kita," tegas Syahganda.
Birokrasi negara termasuk kepolisian harus ideologis, agar dapat kompatibel dengan kebijakan Prabowo yang ideologis.
"Orang misalnya, masih melihat program makan bergizi senilai 300 triliun itu akan menyedot anggaran lain, termasuk anggaran pendidikan 20 persen APBN, padahal ini program ideologis yang belum didukung birokrasi yang kompatibel, makanya banyak keracunan dan Prabowo sangat marah dengan kasus ini," lanjutnya.
Syahganda yang menyebut Polisi sebagai avant garde reformasi, menyarankan Polisi menjadi birokrasi yang lebih ideologis, dan juga memahami tantangan teknologi ke depan.
"Menurut Yuval Noah Harari, dunia hari ini digerakkan narasi yang dibuat teknologi AI, maka setiap orang tidak bisa dibatasi aspirasi dan kreativitasnya dalam berdemokrasi, ini harus dipahami oleh Polisi agar dalam menghadapi protes masyarakat tidak langsung main tangkap," tutup Syahganda.
Diskusi Publik ini dihadiri oleh unsur kehumasan K/L, para pejabat kehumasan Polri baik di Mabes maupun Polda di seluruh tanah air. Pembicara yang hadir antara lain Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, Karopenmas Divisi Humas Polri dan Tenaga Ahli Kedeputian I KSP, Feri Kusuma.
Prabowo Siapkan 9 Tokoh untuk Reformasi Polri
Pemerintah tengah menyusun Tim Reformasi Kepolisian yang akan diisi oleh sembilan tokoh nasional.
Di antara nama yang telah disebut, mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, serta seorang mantan Kapolri dikabarkan siap bergabung.
Hal ini diungkapkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
“Insyaallah, insyaallah. Ya bersama-sama lah, belum ada yang ditunjuk siapa yang akan menjadi ketua, tapi alhamdulillah beliau menyampaikan kesediaan untuk ikut bergabung,” ujar Prasetyo, merujuk pada Mahfud MD.
Prasetyo menyebut jumlah anggota tim reformasi sekitar sembilan orang.
Meski demikian, Prasetyo belum merinci siapa saja yang akan masuk dalam komposisi tersebut.
Keberadaan mantan Kapolri dalam tim ini, menurut Prasetyo, akan memperkuat perspektif internal dan eksternal dalam proses reformasi.
Namun untuk nama-nama spesifik belum diumumkan.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada tenggat waktu khusus bagi tim tersebut untuk menyelesaikan tugasnya. Menurutnya, pendekatan tim ini bersifat kolaboratif dan terbuka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/FOTO-TERBARU-Ketua-Dewan-Direktur-GREAT-Institute-Dr-Syahganda-Nainggolan.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.