Sabtu, 16 Mei 2026

Boni Hargens Bicara Reposisi Kelembagaan Polri Model Prabowo

Boni Hargens, menilai kebijakan tersebut memantulkan arah reformasi fundamental yang meredefinisi posisi Polri dalam ekosistem pembangunan nasional.

Tayang:
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Wahyu Aji
HandOut/IST
SPPG POLRI - Analis Politik dan Isu Intelijen, Boni Hargens 

Kedua, pemerataan akses dalam konteks menghilangkan kesenjangan akses pangan bergizi antara perkotaan dan pedesaan, serta antar wilayah Indonesia.

Ketiga, jaminan bagi kohesi sosial karena ketahanan pangan memperkuat stabilitas sosial dan mengurangi potensi konflik yang dipicu oleh ketimpangan ekonomi.

Konsep ketahanan sosial yang diusung melalui program SPPG Polri melampaui definisi konvensional keamanan nasional.

Ia mengakui bahwa ancaman terhadap kesejahteraan rakyat—termasuk malnutrisi dan ketidakamanan pangan—dapat menggerus stabilitas sosial dan menghambat pencapaian potensi maksimal bangsa. 

"Pendekatan ini mengintegrasikan dimensi kesehatan publik, pembangunan ekonomi, dan kohesi sosial dalam satu kerangka kerja terpadu," katanya.

Akselerasi pembangunan manusia menjadi kunci dalam konteks persaingan global yang semakin ketat.

Investasi pada gizi dan kesehatan masyarakat hari ini akan menentukan kualitas angkatan kerja, inovasi, dan daya saing ekonomi Indonesia dua hingga tiga dekade mendatang.

Program SPPG memposisikan Polri sebagai fasilitator proses transformasi jangka panjang ini, bukan hanya sebagai responden terhadap krisis pangan yang bersifat ad-hoc.

Asta Cita: Kerangka Strategis Pemerintahan Prabowo-Gibran

Dia mengatakan kebijakan penunjukan SPPG Polri tidak dapat dilepaskan dari konteks lebih luas Asta Cita, delapan pilar kebijakan nasional yang menjadi peta jalan pemerintahan Prabowo-Gibran menuju visi Indonesia Emas 2045. 

Asta Cita berfungsi sebagai dokumen strategis yang mengintegrasikan berbagai agenda pembangunan sektoral dalam satu narasi koheren tentang masa depan Indonesia.

Setiap pilar Asta Cita saling terkait dan memperkuat. Kedaulatan pangan tidak mungkin tercapai tanpa reformasi birokrasi yang efektif. Keadilan sosial memerlukan pemerataan pembangunan infrastruktur.

"Pertahanan yang kuat bergantung pada kesejahteraan rakyat yang terjamin. Inilah logika integratif yang mendasari penunjukan SPPG Polri—sebuah intervensi yang menyentuh setidaknya empat pilar sekaligus: kedaulatan pangan, keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan reformasi birokrasi melalui inovasi kelembagaan," ujarnya.

Kedaulatan Pangan: Pilar Pertama Asta Cita dan Relevansinya dengan SPPG

Kedaulatan pangan, energi, dan air menempati posisi pertama dalam hierarki Asta Cita, mencerminkan prioritas strategis pemerintahan baru terhadap pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. 

Dalam konteks pangan, kedaulatan bukan sekadar ketersediaan kalori, tetapi kemampuan nasional untuk menentukan sistem pangan yang berkelanjutan, adil, dan berbasis pada potensi lokal.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved