Sabtu, 16 Mei 2026

Boni Hargens Bicara Reposisi Kelembagaan Polri Model Prabowo

Boni Hargens, menilai kebijakan tersebut memantulkan arah reformasi fundamental yang meredefinisi posisi Polri dalam ekosistem pembangunan nasional.

Tayang:
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Wahyu Aji
HandOut/IST
SPPG POLRI - Analis Politik dan Isu Intelijen, Boni Hargens 

Program SPPG Polri merupakan instrumen operasionalisasi visi kedaulatan pangan ini.

Melalui SPPG, negara tidak hanya memastikan distribusi pangan, tetapi juga membangun sistem yang memperkuat kapasitas produksi lokal, mengurangi ketergantungan pada impor, dan meningkatkan resiliensi terhadap guncangan eksternal seperti krisis iklim atau volatilitas harga global.

Kedaulatan pangan juga memiliki dimensi geopolitik. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan kerentanan terhadap perubahan iklim, Indonesia tidak dapat mempercayakan ketahanan pangannya sepenuhnya pada mekanisme pasar global.

 SPPG Polri, dengan jangkauan teritorial yang luas, menjadi mekanisme kontrol negara untuk memastikan tidak ada wilayah atau kelompok masyarakat yang tertinggal dalam akses terhadap pangan bergizi.

Penunjukan Satuan Penyelenggara Pangan Gizi (SPPG) Polri sebagai model nasional pengelolaan pangan bergizi merepresentasikan keberanian pemerintahan Prabowo-Gibran dalam melakukan terobosan kebijakan yang tidak konvensional namun strategis.

Seperti dianalisis oleh Boni Hargens, ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan redefinisi fundamental tentang peran institusi keamanan dalam demokrasi modern Indonesia.

Kebijakan ini sejalan dengan semangat Asta Cita, khususnya pilar kedaulatan pangan dan reformasi birokrasi, serta mengintegrasikan berbagai dimensi pembangunan—kesehatan, ekonomi, sosial, dan keamanan—dalam satu kerangka kerja holistik.

Pendekatan ini mengakui bahwa pembangunan manusia berkelanjutan memerlukan intervensi multi-sektoral yang melampaui batasan-batasan kelembagaan tradisional.

Maka, pelibatan Polri dalam pelaksanaan kebijakan pangan gratis pemerintahan Prabowo-Gibran menurut Boni Hargens, mencermikan transformasi institusional. Polri berevolusi dari penegak hukum menjadi agen pembangunan sosial yang berkontribusi langsung pada kesejahteraan rakyat. Berikut, inovasi kebijakan.

Demonstrasi kemampuan pemerintah untuk berpikir kreatif dalam mengatasi tantangan kompleks dengan memanfaatkan aset kelembagaan yang ada. Lalu yang terakhir, investasi pada gizi dan kesehatan hari ini adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas tahun 2045.

Keberhasilan program ini akan diukur bukan hanya dari angka distribusi pangan atau penurunan prevalensi malnutrisi, tetapi dari transformasi paradigma tentang bagaimana negara dan masyarakat bekerja sama membangun masa depan yang lebih adil dan sejahtera.

Jalan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan keberanian untuk berinovasi, komitmen untuk berkolaborasi, dan visi untuk melihat melampaui batasan-batasan konvensional.

Baca juga: Pekerja SPPG Cimalaka Ungkap Rasa Syukur Bekerja di Dapur MBG: Ada Anak yang Harus Dinafkahi

Penunjukan SPPG Polri adalah langkah berani dalam perjalanan panjang tersebut—sebuah eksperimen kebijakan yang, jika berhasil, dapat menjadi model bagi transformasi institusional di sektor-sektor lain dan bahkan menginspirasi negara-negara berkembang lainnya dalam mengejar tujuan pembangunan berkelanjutan mereka.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved