Rabu, 6 Mei 2026

Kementan Dorong Pertanian Presisi dan Cerdas, Akui Belum Merata di Lapangan

Penerapan teknologi pertanian modern seperti precision farming dan smart farming di Indonesia masih belum meluas secara signifikan.

Tayang:
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Dodi Esvandi
Tribunnews/Igman Ibrahim
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Yudi Sastro mengungkap Indonesia diproyeksikan akan surplus beras pada 2025. Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/10/2025). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Yudi Sastro, mengakui bahwa penerapan teknologi pertanian modern seperti precision farming dan smart farming di Indonesia masih belum meluas secara signifikan.

Meski demikian, pemerintah terus mendorong adopsi teknologi ini demi meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian nasional.

“Kita sudah mulai ke arah sana. Dalam hal pemupukan, misalnya, kita sudah memanfaatkan teknologi seperti IoT. Tapi memang belum termasifkan dengan baik,” ujar Yudi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Yudi menjelaskan bahwa penggunaan teknologi digital dalam pertanian saat ini masih terbatas, terutama di kalangan petani milenial. 

Sementara itu, penerapan secara luas masih menghadapi berbagai tantangan struktural.

“Skalanya belum besar. Sudah cukup banyak petani milenial yang mulai menerapkan, tapi untuk menjadikannya masif dan di-scale up ke seluruh wilayah, masih banyak pekerjaan rumah. Karakter petani kita juga beragam, ini yang perlu terus kita dorong,” katanya.

Salah satu hambatan utama, menurut Yudi, adalah kepemilikan lahan yang kecil serta dominasi petani dari generasi tua. Kondisi ini membuat adopsi teknologi modern belum merata.

“Tantangan kita jelas: kepemilikan lahan kecil dan mayoritas petani masih dari generasi tua. Ini membuat proses transformasi teknologi tidak mudah,” tuturnya.

Meski begitu, Yudi tetap optimistis bahwa teknologi berbasis presisi akan menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia ke depan.

“Di sinilah letak peluang kita untuk menjadikan sektor pertanian berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional,” pungkasnya.

Baca juga: Kementan: Indonesia Surplus Beras 4 Juta Ton, Swasembada Tetap Jadi Prioritas

Mengenal Precision dan Smart Farming

Precision Farming atau pertanian presisi adalah sistem budidaya berbasis data dan teknologi digital. 

Tujuannya adalah memastikan setiap proses—dari pemupukan, penyiraman, hingga panen—dilakukan secara tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat lokasi.

Contoh teknologi yang digunakan:

  • GPS dan drone untuk pemetaan lahan serta pemantauan pertumbuhan tanaman
  • Sensor tanah dan cuaca (IoT) untuk mendeteksi kadar air, pH, dan unsur hara
  • Software analitik dan AI untuk menentukan dosis pupuk serta waktu tanam optimal

Smart Farming atau pertanian cerdas merupakan pengembangan lebih lanjut dari precision farming. 

Teknologi yang digunakan mencakup AI, IoT, big data, dan robotik untuk mengotomatisasi dan mengoptimalkan seluruh rantai produksi pertanian.

Contoh penerapannya:

  • AI dan machine learning untuk memprediksi cuaca dan hasil panen
  • Aplikasi mobile untuk mengontrol irigasi dan alat tanam jarak jauh
  • Blockchain dan sistem cloud untuk memastikan ketelusuran (traceability) rantai pasok pangan
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved