Latar Belakang Lahirnya Tepuk Sakinah, Ternyata Ini Alasannya
Alissa Wahid di membeberkan latar belakang munculnya ide Tepuk Sakinah di talkshow STQH Nasional XXVIII, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Ringkasan Berita:
- Tepuk Sakinah dibuat atas dasar untuk mengajak masyarakat membangun keluarga yang sakinah.
- Tepuk Sakinah juga menjadi sarana edukatif untuk menghadapi tren media sosial yang sering memandang pernikahan secara negatif.
TRIBUNNEWS,COM, JAKARTA - Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid mengungkapkan latar belakang lahirnya Tepuk Sakinah.
Tepuk Sakinah yang viral di media sosial merupakan gerakan edukatif yang diajarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) kepada calon pengantin.
Alissa mengungkapkan Tepuk Sakinah dibuat atas dasar untuk mengajak masyarakat membangun keluarga yang sakinah.
“Kami waktu itu membayangkan, keluarga sakinah itu seperti apa sih? Apa yang membuat keluarga tetap sehat dan membawa kebaikan bagi semua anggotanya? Dari sanalah lahir lima pilar perkawinan sakinah yang kemudian dirangkum dalam Tepuk Sakinah,” ujar Alissa.
Hal tersebut diungkapkan oleh Alissa pada Talkshow Stop Pernikahan Anak dan Gas (Gerakan Sadar) Pencatatan Nikah yang digelar Kementerian Agama di arena utama STQH Nasional XXVIII, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Tepuk Sakinah merangkum lima pilar penting bagi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah, yaitu berpasangan, janji yang kokoh, saling cinta dan menjaga, saling ridha, serta musyawarah.
Ia menjelaskan bahwa banyak perkawinan gagal karena tidak kuat pada lima pilar tersebut.
"Sering kali mereka lupa bahwa ijab kabul itu disaksikan oleh Allah. Ketika cinta memudar, mereka langsung berpikir untuk berpisah. Padahal, janji itu adalah mitsaqan ghaliza, yakni janji yang kokoh," jelasnya.
Menurut Alissa, nilai-nilai dalam Tepuk Sakinah perlu ditanamkan sejak remaja agar mereka memahami makna sakinah sebelum memasuki pernikahan.
"Adik-adik yang masih di Tsanawiyah dan Aliyah bisa pakai Tepuk Sakinah ini untuk mengingatkan orang tua atau kakaknya yang sedang berkonflik. Katakan bahwa perkawinan itu janji kokoh, tidak boleh dianggap enteng," tuturnya.
Ia menambahkan, Tepuk Sakinah juga menjadi sarana edukatif untuk menghadapi tren media sosial yang sering memandang pernikahan secara negatif.
Baca juga: 5 Pilar Pernikahan dalam Tepuk Sakinah, Dinyanyikan Calon Pengantin saat Bimbingan di KUA
“Sekarang banyak yang bilang marriage is scary, takut menikah karena trauma atau melihat banyak perceraian. Padahal, kalau lima pilar ini dijaga, insyaallah perkawinan akan membawa kedamaian dan rahmah,” ujarnya.
Sementara itu pendakwah Habib Husein bin Ja’far Al-Hadar menjelaskan konsep berpasangan dalam Al-Qur’an sebagai nilai universal yang menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri.
"Karena Al-Qur’an ngajarin begitu, bahwa ketika kita menikah, itu adalah berpasangan. Bahkan berpasangan itu tidak cuma antara suami dan istri, tapi juga antar teman dan sahabat. Kita harus saling menguatkan dan melengkapi," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Alissa-Wahid-Tepuk-Sakinah.jpg)