Mengenang Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987, Kecelakaan Kereta Api Paling Mematikan di Indonesia
Peristiwa ini menjadi paling berdarah dan mematikan dalam sejarah KA Indonesia. Kecelakaan tersebut terjadi saat pagi hari di kawasan Bintaro, Jaksel.
Saat terjadi tabrakan, Slamet Suradio tergencet oleh badan lokomotif dalam keadaan bersimbah darah dan dijemput oleh seorang wanita dengan mobilnya ke rumah sakit. Dalam keadaan PTP masih memiliki bekas bercak darah. Slamet Suradio berhasil membuktikan kepada hakim bahwa dirinya tergencet dan tidak melompat, dan menuding bahwa orang yang menuliskan berita tersebut adalah fitnah.
Pada tahun 1988, Slamet Suradio divonis hukuman 5 tahun penjara dan harus kehilangan pekerjaannya sebagai masinis. Ia ditahan di Lapas Cipinang dan bebas setelah hukumannya diremisi menjadi 3,5 tahun.
Baca juga: 10 Insiden Kecelakaan Kereta Api di Tahun 2025, Terbaru KA Argo Bromo Anggrek Anjlok di Subang
Setelah bebas dari penjara, Slamet Suradio sempat hanya apel di kantornya karena sudah dibebastugaskan. Pada tahun 1996, ia dipecat secara tidak hormat oleh Departemen Perhubungan Indonesia dengan terbitnya Surat Keputusan No. 4/KP.602/Pnb-96. Ia pun tidak mendapatkan uang pensiun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tragedi-bintaro-menjadi-salah-satu-noda-hitam-dalam-dunia-transportasi-indonesia_20181021_214213.jpg)