Senin, 13 April 2026

Mengenang Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987, Kecelakaan Kereta Api Paling Mematikan di Indonesia

Peristiwa ini menjadi paling berdarah dan mematikan dalam sejarah KA Indonesia. Kecelakaan tersebut terjadi saat pagi hari di kawasan Bintaro, Jaksel.

Editor: willy Widianto
Tribunnews.com
TRAGEDI BINTARO 1987 - Tragedi Bintaro menjadi salah satu noda hitam dalam dunia transportasi Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • Dua kereta maut tersebut akhirnya bertabrakan di kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. 
  • Data resmi mencatat setidaknya ada 156 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. 
  • Sekitar pukul 06.45 WIB dua kereta api tersebut bertabrakan secara frontal dengan kecepatan tinggi.
  • Penyebab utama Tragedi Bintaro 1987 adalah kesalahan komunikasi di antara petugas stasiun, khususnya petugas PPKA Stasiun Sudimara dan petugas PPKA Stasiun Kebayoran.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hari ini 19 Oktober tepat 38 tahun peristiwa kecelakaan kereta api yang biasa disebut Tragedi Bintaro I. Saat itu tahun 1987 di pagi hari, dua kereta api KA 225 dan KA 220 Patas Merak melaju di jalur yang sama dari arah yang berlawanan.

Baca juga: Kronologi Tabrakan Kereta Api Vs Sepeda Motor di Probolinggo, Satu Orang Tewas di Tempat

Dua kereta maut tersebut akhirnya bertabrakan di kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Peristiwa ini menjadi yang paling berdarah dan mematikan dalam sejarah kereta api Indonesia.

Data resmi mencatat setidaknya ada 156 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. 

Diketahui penyebab kecelakaan kereta api tersebut bermula saat KA 225 tiba di stasiun Sudimara, Tangerang Selatan. Semestinya KA tersebut menunggu kereta dari arah berlawanan yakni KA 220 untuk lewat terlebih dahulu. Namun karena ada persoalan komunikasi antara petugas stasiun Sudimara dan Stasiun Kebayoran, KA 225 malah diberangkatkan tanpa ada konfirmasi kabar aman.

Di saat yang sama KA 220 Patas Merah sedang melaju cepat dari arah Stasiun Tanah Abang menuju Merak. Sekitar pukul 06.45 WIB dua kereta api tersebut bertabrakan secara frontal dengan kecepatan tinggi. Suara benturan terdengar sangat keras dan beberapa gerbong terguling hingga hancur lebur.

Penyebab utama Tragedi Bintaro 1987 adalah kesalahan komunikasi di antara petugas stasiun, khususnya petugas PPKA Stasiun Sudimara, yang mengatur jalannya KA 225 dari arah Rangkasbitung menuju Jakarta Kota serta petugas PPKA Stasiun Kebayoran, yang bertanggung jawab atas jalannya KA 220 Patas dari Tanah Abang menuju Merak.

Salah satu masinis bernama Slamet Suradio menjadi tersangka dalam kecelakaan kereta api tersebut. Menurut Slamet dirinya sama sekali tidak bersalah dalam peristiwa kecelakaan maut tersebut. 

Slamet mengaku mendapatkan Semboyan 40 dari PPKA yang menandakan bahwa lintasan rel yang akan dilalui KA 225 dalam kondisi aman. Selain itu ia juga telah mendapatkan Surat PTP (pemindahan tempat persilangan) yang berarti bahwa kereta KA 225 harus berjalan melintasi rel lebih dahulu dan kereta KA 220 diperbolehkan melintasi rel saat kereta KA 225 telah sampai tujuan.

Diketahui saat bertugas masinis Slamet Suradio ditemani Soleh sebagai asisten masinis dan Adung Syafei sebagai kondektur dengan membawa lokomotif BB30616. Sementara itu, KA 220 ditarik lokomotif BB303 16 dan dimasinisi oleh Amung Sunarya, dengan asistennya, Mujiono.

Baca juga: Kilas Balik Tragedi Tabrakan Kereta Api Bintaro 1987, Telan Korban Ratusan Jiwa

"Yang seharusnya saya di Sudimara bersilangan dengan KA220 dibatalkan oleh PPKA yang sedang dinas.Jadi kalau ada orang yang mengatakan berangkat sendiri itu bohong. Ada katanya saya loncat itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah,"kata Slamet dikutip saat wawancara dengan judul Kisah Tanah Jawa di channel Youtube.

Berbeda dengan tudingan di pengadilan dan laporan akhir PJKA bahwa Slamet Suradio memberangkatkan sendiri kereta apinya tanpa izin, Slamet Suradio mengatakan dengan tegas bahwa dirinya sama sekali hanya mengikuti instruksi dari PPKA Sudimara menggunakan PTP tersebut. Bahkan Slamet Suradio berkali-kali menegaskan bahwa tudingan tersebut adalah sebuah kebohongan besar. Ia juga menegaskan bahwa tak ada hal apa pun yang dikhawatirkan karena ia merasa tak melihat semboyan apa pun yang diterimanya.

Saat terjadi tabrakan, Slamet Suradio juga meluruskan apa yang diberitakan di media, termasuk dalam koran Pembaruan yang pertama kali membahas mengenai Tragedi Bintaro 1987 yang menulis "masinis lompat" pada koran tersebut. 

"Kaki saya ngesot-ngesot tidak bisa jalan, akhirnya saya merambat melalui jendela,"ujarnya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved