Wawancara Eksklusif
“Berani Gak Memimpin?” Tantangan Prabowo yang Lahirkan Program MBG untuk Anak Negeri
Prabowo menantang, Dadan menjawab. Dari trauma keracunan hingga sendok hilang—ini kisah nyata di balik MBG yang bikin hati bergetar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — “Berani gak memimpin?” Kalimat itu bukan sekadar tantangan, tapi titik balik yang mengubah arah hidup Dadan Hindayana—dan jutaan anak Indonesia.
Ketika Prabowo Subianto mencetuskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), itu bukan janji kampanye yang lahir di ruang rapat.
Di balik gagasan ambisius itu, tersembunyi kisah panjang tentang keprihatinan, pengalaman lapangan, dan tekad seorang pemimpin yang tak tahan melihat anak-anak negeri tumbuh dalam kekurangan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkap bahwa MBG bukan ide dadakan.
Ia lahir dari pengamatan langsung Prabowo selama bertahun-tahun turun ke pelosok negeri, menyaksikan sendiri wajah-wajah kecil yang kurang gizi, tubuh-tubuh mungil yang tak semestinya lemah.
“Beliau sering turun ke daerah, melihat sendiri anak-anak yang pertumbuhannya kurang baik. Dari situlah muncul keinginan kuat untuk memberi makan jutaan anak Indonesia,” kata Dadan dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews di kantor BGN, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Dadan pun membuka banyak hal dalam perbincangan itu—dari asal mula MBG, tekanan di lapangan, hingga komunikasi langsung dengan Presiden.
Berikut petikan wawancara Tribunnews bersama Kepala BGN Dadan Hindayana:
Bapak waktu itu dilantik sebelum Pak Prabowo dilantik sebagai Presiden RI. Apakah itu kemauan datang dari diri sendiri atau seperti apa?
Saya menjadi Kepala Badan Gizi atas keinginan dan permintaan Pak Presiden Prabowo Subianto. Jauh sebelum beliau dilantik, kami sudah membicarakan program ini, yakni sejak Juni 2023. Dan kami meluncurkan program ini pada 15 Agustus 2023, jauh sebelum Pilpres 2024 dilakukan.
Program ini sudah lama dicita-citakan oleh beliau, berangkat dari pengalaman lapangan dan operasi yang sering turun ke daerah-daerah. Konsep yang dilaksanakan sekarang merupakan hasil pilot project yang saya laksanakan di Sukabumi.
Oh, di Sukabumi yang pertama?
Ya, betul. Dan begitu Pak Prabowo menang dan dinyatakan menjadi calon presiden terpilih saat itu, kemudian diskusi kami makin intensif. Dan beliau mengatakan kita harus membentuk sebuah badan yang akan melaksanakan program ini.
Karena beliau tidak ingin program ini dilaksanakan dalam bentuk kementerian, maka dibentuklah apa yang disebut dengan Badan Gizi Nasional.
Saya kira, ini salah satu badan yang bagus dibentuk karena menempatkan gizi sebagai bagian penting dalam pembangunan manusia. Dan gizi merupakan dasar utama pertumbuhan manusia. Jadi, saya kira ini program yang bagus sekali dari Pak Presiden Prabowo Subianto.
Dan kemudian ketika mencari orang untuk menjadi kepala badan saat itu, beliau mempertimbangkan beberapa orang.
Dan ketika bertemu dalam satu pertemuan, tiba-tiba beliau bertanya ke saya, "Berani gak memimpin?".
Baca juga: VIDEO EKSKLUSIF Bukan soal Statistik Tapi Satu Anak Saja Jadi Korban, Itu Sudah Bencana Nasional
Kenal di mana waktu itu? Ketemu di mana?
Sebetulnya sejak 2020 saya sudah ikut menjadi tim pakar untuk program food estate di Kementerian Pertahanan. Saat itu saya bergabung lewat Pak Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Prof. Ramadhan Budi, yang memang sudah lama dekat dengan Pak Prabowo Subianto. Dulu beliau juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal saat Pak Prabowo menjabat sebagai Ketua HKPI.
Pak Ramadhan sudah lama berkomunikasi intens dengan Pak Prabowo, terutama soal pembangunan pertanian dan isu-isu strategis lainnya. Saya diajak beliau masuk ke lingkaran diskusi itu. Sejak perkenalan di Kementerian Pertahanan, lalu masuk masa pilpres, saya diminta ikut dalam tim pakar untuk penyusunan misi. Sejak saat itu, intensitas pertemuan dengan Pak Prabowo meningkat—kami berdiskusi tiga sampai empat kali seminggu, durasinya bisa satu hingga empat jam setiap sesi.
Soal Perpres terkait dengan MBG, kelanjutannya bagaimana?
Perpres itu mengatur lebih banyak keterkaitan antar lembaga. Setelah program ini berjalan, ternyata jangkauannya cukup besar. Pelaksana utamanya memang Badan Gizi, tapi tidak cukup hanya itu. Kami butuh dukungan SDM dari Menpan-RB, koordinasi dari Sekretariat Negara, peraturan dari Menteri Hukum, pemenuhan rantai pasok dari Kementerian Pertanian dan KKP, serta kelembagaan dari Kementerian Koperasi, UMKM, dan Menteri Desa.
Penerima manfaat juga tersebar di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian PPA, dan Kementerian Pendudukan dan Pembinaan Keluarga. Termasuk aspek kehalalan dari Badan Penyelenggara Produk Halal. Jadi Perpres itu membahas tugas pokok dan fungsi dari masing-masing lembaga, kementerian, atau institusi.
Terjadi banyak kasus keracunan dalam pelaksanaan program ini dan jumlahnya meningkat. Bagaimana komunikasi Bapak dengan Pak Presiden Prabowo? Apakah ini jadi tekanan juga?
Tentu saja kami tidak menginginkan kejadian seperti ini terjadi. Kami selalu menyesalkan setiap kali ada kasus. SOP sudah kami buat sangat rinci dan detail, memperhitungkan berbagai hal. Tapi, karena ini program besar dengan variasi daerah yang tinggi, kejadian seperti ini masih bisa terjadi. Kami berusaha sekuat tenaga agar frekuensinya semakin kecil.
Setiap kejadian pasti ada penerima manfaat yang tersakiti, harus dirawat, diinfus, dan sebagainya. Ada orang tua yang khawatir, takut anaknya kenapa-kenapa. Dan tentu saja, kepercayaan publik juga ikut terganggu.
Trauma juga, Pak?
Trauma. Karena itu kami ingin menghindarkan kejadian seperti ini. Pak Presiden pun memberikan instruksi yang lebih rinci terkait penanganan. Termasuk instruksi terakhir dalam Sidang Kabinet Paripurna agar BGN membagikan sendok atau mengajarkan anak-anak untuk makan menggunakan sendok.
Apakah sebelumnya belum ada sendok garpunya?
Sebenarnya sudah ada. Tapi ukurannya kecil, sering hilang. Beberapa anak juga bawa sendiri. Sekarang Pak Presiden menginginkan agar Badan Gizi yang menyediakan langsung.
Apakah perlu tambahan anggaran lagi?
Enggak perlu. Tidak setiap kali ada kegiatan harus tambah anggaran. Biaya yang ada di kami sudah cukup.
Kami ingin tahu, apakah setiap hari Bapak teleponan dengan Pak Prabowo, mengingat program ini sedang jadi sorotan? Atau seperti apa?
Biasanya beliau yang berinisiatif menelepon. Kalau ada informasi yang perlu dikonfirmasi, ditanyakan, atau disarankan, beliau langsung menghubungi atau mengundang rapat.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.