Senin, 11 Mei 2026

29 Satuan Pendidikan Ikuti Asesmen Mutu Tahap II, Majelis Masyayikh Tegaskan Pendekatan Dialogis

Asesmen tahap lanjutan ini memfokuskan pendalaman, analisis perkembangan, dan identifikasi praktik baik yang perlu diperkuat tiap satuan pendidikan.

Tayang:
HO/IST
RAPAT PLENO - KH. Abdul Ghaffar Rozin (Ketua Majelis Masyayikh) saat menyampaikan arahan pada Rapat Pleno hasil asesmen Majelis Masyayikh. Asesmen berlangsung pada 27 Oktober hingga 25 November 2025, mencakup 29 satuan pendidikan pada tiga kategori. 

Ringkasan Berita:
  • Majelis Masyayikh melaksanakan Asesmen Penjaminan Mutu Pendidikan Pesantren Dikdasmen Tahap II.
  • Asesmen berlangsung di 29 satuan pendidikan di 11 provinsi dengan pendekatan dialogis, menempatkan asesor sebagai pendamping, bukan pemberi vonis.
  • Majelis Masyayikh menurunkan tim monev dan menerima respons positif dari pesantren.

 

Hasiolan EP/Tribunnews.com 

TRIBUNNEWS.COM - Majelis Masyayikh melanjutkan pelaksanaan Asesmen Penjaminan Mutu Pendidikan Pesantren Jenjang Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Tahap II Tahun 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya mutu internal pesantren.

Program asesmen ini dirancang tidak hanya untuk menilai, tetapi juga meneruskan praktik baik yang telah berjalan serta mendorong perbaikan berkelanjutan di lingkungan pesantren.

Asesmen berlangsung pada 27 Oktober hingga 25 November 2025, mencakup 29 satuan pendidikan pada tiga kategori—Muadalah Salafiyah, Muadalah Mu’allimin, dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF)—yang tersebar di 11 provinsi, yakni Banten, Jambi, NTB, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, D.I. Yogyakarta, Riau, Sulawesi Selatan, dan DKI Jakarta.

Ketua Majelis Masyayikh KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menegaskan bahwa pesantren tetap diposisikan sebagai mitra strategis dalam proses asesmen.

Baca juga: Yandri Susanto Usulkan agar Madrasah Diniyah Masuk ke RPJPN 2025-2045

Menurutnya, pendekatan dialogis menjadi kunci agar pesantren merasa didampingi dalam meningkatkan mutu.

“Asesmen Tahap II Dikdasmen kami arahkan untuk melanjutkan praktik baik yang sudah ada. Pesantren memiliki banyak kekuatan, tinggal diperkuat dan disistematisasi. Asesor hadir sebagai teman diskusi, bukan pemberi vonis,” ujar Gus Rozin.

Ia menambahkan bahwa standar mutu tetap harus berakar pada tradisi pesantren yang dijamin undang-undang.

Anggota Divisi Dikdasmen Majelis Masyayikh, Nyai Badriyah Fayumi, menjelaskan bahwa asesmen tahap lanjutan ini memfokuskan pendalaman, analisis perkembangan, dan identifikasi praktik baik yang perlu diperkuat di tiap satuan pendidikan.

“Asesmen Tahap II bukan sekadar menilai progres, tetapi memastikan praktik baik betul-betul menjadi budaya mutu pesantren. Rekomendasinya harus realistis, kontekstual, dan bisa dijalankan secara berkelanjutan,” jelas Badriyah.

Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan, Majelis Masyayikh menerjunkan tim monitoring dan evaluasi (monev) ke sejumlah titik. Tim ini memastikan kelancaran teknis, pendampingan lapangan, serta kredibilitas proses sehingga hasil asesmen tetap akurat dan objektif.

Respons positif datang dari pesantren peserta. Subhan Arbani, Kepala SPM Ulya Madrasah Hidayatul Mubtadi’en Lirboyo Kediri, mengatakan bahwa pendekatan dialogis asesmen membantu satuan pendidikan membaca kondisi mutu secara lebih jernih dan merumuskan langkah perbaikan bertahap.

“Kami merasa ditemani, bukan diadili. Banyak praktik baik yang sudah berjalan, dan asesmen ini membantu kami memperkuatnya,” ujar Subhan.

Majelis Masyayikh berharap asesmen Dikdasmen dapat menjadi katalis terbentuknya ekosistem mutu pendidikan pesantren yang lebih kuat, progresif, dan tetap berakar pada nilai-nilai keilmuan pesantren.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved