Menteri Agama Nasaruddin Umar: Indonesia Capai Harmoni Tertinggi Sepanjang Sejarah
Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar menyebut Indonesia berada pada tingkat harmoni tertinggi sepanjang sejarah.
Ringkasan Berita:
- Indonesia berada pada tingkat harmoni tertinggi sepanjang sejarah.
- Toleransi dipahami sebagai kesediaan menjalin kedekatan di tengah perbedaan dan persamaan.
- Enam agama resmi (Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu) berasal dari luar Indonesia.
- Proses “pengindonesiaan” berhasil dilakukan tanpa mengubah substansi ajaran, sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar menyebut Indonesia berada pada tingkat harmoni tertinggi sepanjang sejarah, dan mengajak seluruh elemen bangsa merawat toleransi serta kerukunan umat beragama.
"Data yang kita peroleh sepanjang sejarah, kita sekarang ini berada pada tahun indeks harmoni tertinggi dalam sepanjang sejarah Indonesia," ujar Nasaruddin.
Hal ini disampaikan Nasaruddin dalam acara Malam Anugerah Harmony Award Tahun 2025 di Jakarta.
Pencapaian harmoni Indonesia tidak terlepas dari kemampuan masyarakat menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan.
“Kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak mungkin terwujud kerukunan tanpa harmoni, dan harmoni itu tidak mungkin hadir tanpa kesediaan kita menerima orang lain,” ucapnya.
Dalam acara yang digelar Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB Setjen Kemenag ini, Nasaruddin menjelaskan, toleransi beragama tidak berarti menyamakan hal yang berbeda atau membedakan sesuatu yang sama.
Dirinya menekankan bahwa toleransi adalah kemampuan menjalin kedekatan di tengah perbedaan sekaligus persamaan.
“Toleransi berarti kesediaan kita menerima perbedaan itu sendiri,” katanya.
Nasaruddin mengatakan, enam agama yang diakui negara Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu datang dari luar Indonesia.
Menurutnya, perlu proses "pengindonesiaan" tanpa mengubah substansi ajaran.
"Ini sudah berhasil kita lakukan, sehingga terwujud Indonesia sejati dengan simbol Bhinneka Tunggal Ika," jelas Nasaruddin.
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini menambahkan, keberhasilan ini turut membentuk karakter masyarakat beragama yang tetap berpegang pada keyakinan, namun sekaligus mampu menjadi seratus persen Indonesia.
Ia menegaskan, pengarifan lokal terhadap ajaran agama perlu terus dikembangkan tanpa melanggar inti ajaran. “Indahnya Indonesia terletak pada kemampuan kita meramu nilai agama dengan kearifan lokal,” ucapnya.
Dalam acara ini, Nasaruddin juga menyebut keberhasilan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) sebagai bukti pentingnya kolaborasi lintas budaya dan lintas agama dalam menjaga stabilitas sosial.
“Indonesia tersusun dari berbagai daerah dan kultur berbeda-beda. Karena itu kita harus mampu mengindonesiakan kearifan lokal, sekaligus melokalkan keindonesiaan itu sendiri,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/menteri-agama-nasaruddin-umar-20102025.jpg)