Jumat, 1 Mei 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Pakar: Dampak Banjir di Sumatra Lebih Luas dari Tsunami Aceh 2004

Pakar kebencanaan menilai banjir di Pulau Sumatra memiliki dampak yang lebih luas dari tsunami Aceh 2004. Banjir ini berdampak di tiga provinsi.

Tayang:
/Kepolisian RI
BANJIR DI SUMATRA - Penyaluran bantuan kemanusian terhadap masyarakat terdampak bencana mengunakan helikopter Polri ke Aceh Tamiang, Selasa (2/12/2025). Pakar menilai banjir di Pulau Sumatra memiliki dampak yang lebih luas dari tsunami Aceh 2004. 
Ringkasan Berita:
  • Pakar kebencanaan menilai luasan dampak banjir di Sumatra melebihi tsunami Aceh 2004 silam.
  • Pemerintah dinilai perlu memperhatikan urusan kemanusiaan untuk strategi jangka pendek penanganan bencana.
  • Hingga saat ini, korban meninggal dunia akibat banjir Sumatra mencapai 836 jiwa.

 

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Prof Eko Teguh Paripurno menilai banjir di Pulau Sumatra memiliki dampak yang lebih luas dari tsunami Aceh 2004.

Banjir bandang dan tanah longsor berdampak di tiga provinsi, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.

Maka dari itu Eko mengingatkan agar pemerintah memperhatikan langkah jangka pendek dan jangka panjang dalam menangani bencana hidrometeorologi ini.

"Jangka pendeknya itu adalah urusan keselamatan generasi yang ada di sana, bagaimana nanti berhubungan dengan ekonomi, kecupan gizi ya karena aset penghidupannya itu sangat terbatas sekarang ini," ungkap Eko kepada Tribunnews.com dalam dialog Overview, Rabu (3/12/2025).

Eko menegaskan, saat ini yang terjadi di Sumatra bukan hanya sekadar urusan bencana, melainkan urusan kemanusiaan.

Terlebih, terputusnya rantai pasok dinilai membuat kondisi tidak mudah.

"Karena rantai pasok sekarang juga terganggu dan menurut saya ini lebih dari tsunami Aceh."

"Tsunami Aceh itu banyak korbannya namun keluasannya 'hanya' di pantai, tapi (banjir) ini sangat luas. Rantai pasoknya itu putus," ungkapnya.

Untuk diketahui, bencana tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004.

Tsunami menyapu hingga beberapa kilometer ke daratan, menghancurkan rumah, jembatan, pelabuhan, dan infrastruktur vital. Korban tsunami Aceh di Indonesia mencapai lebih dari 170.000 jiwa.

Bupati Aceh Utara: Kerusakan Lebih Parah dari Tsunami

Sementara itu Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil yang akrab disapa Ayahwa, menyampaikan bencana banjir yang melanda wilayahnya dalam beberapa hari terakhir berada pada tingkat keparahan yang melampaui tragedi tsunami 2004 silam.

Menurutnya, skala kerusakan yang terjadi tidak hanya menghancurkan permukiman warga, tetapi juga memutus akses vital dan menelan korban jiwa dalam jumlah banyak.

“Lebih parah daripada tsunami, rumah hilang, seluruh kawasan terdampak, nyawa manusia melayang, infrastruktur rusak, jembatan putus, jalan-jalan rusak parah,” ujar Ayahwa dikutip dari Serambinews.com, Selasa (2/12/2025).

Menurut Bupati, tsunami pada 2004 hanya terdampak di wilayah pesisir dan berlangsung singkat.

Banjir kali ini sudah hampir sepekan tak kunjung surut. Banyak daerah yang masih terisolir, masyarakat belum mendapatkan bantuan optimal, dan beberapa laporan menyebutkan adanya penemuan mayat di sejumlah titik belum dapat dievakuasi. 

Ayahwa menegaskan, bahwa pemerintah daerah sudah berusaha semaksimal mungkin.Namun keterbatasan sumber daya membuat penanganan bencana tak dapat dilakukan tanpa bantuan pusat.

“Kami tidak sanggup menangani sendiri. Kami akan mengirimkan surat resmi kepada Presiden. Situasi ini di luar kemampuan kami,” ucapnya.

Surat tersebut nantinya juga akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subioanto, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, BNPB, DPD RI, DPR RI, dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Sementara itu pada bencana banjir di Sumatra ini terdampak langsung di setidaknya 50 kabupaten/kota yang tersebar di Sumut, Sumbar, dan Aceh.

Lebih dari 10.000 rumah, ratusan fasilitas serta rumah ibadah juga mengalami kerusakan.

Eko menegaskan, selain jangka pendek, pemerintah perlu memikirkan strategi jangka panjang melalui kebijakan yang diambil.

Pemerintah, lanjut Eko, perlu membuat kebijakan pembangunan yang tidak meningkatkan risiko atau ancaman baru maupun meningkatkan kerentanan yang sudah ada.

"Kalimat itu bisa diterjemahkan bagaimana kebijakan tata ruang, bagaimana kebijakan investasi, bagaimana kebijakan pajak produksi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan warga," ungkap Eko.

"Pemerintah yang baik kan pemerintah yang mampu mengelola ketercukupan warganya. Warga yang banyak ya, bukan warga yang sedikit," tegasnya.

Korban Banjir Sumatra Capai 836 Jiwa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan update kondisi bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) pada Kamis (4/12/2025).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengungkapkan, jumlah korban meninggal dalam peristiwa ini mencapai 836 jiwa.

"Hingga sore ini, untuk jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 836 jiwa," ungkapnya dalam konferensi pers di Lanud Iskandar Muda, Aceh.

Abdul mengatakan, jasad korban bencana paling banyak ditemukan di Aceh.

"Hari ini sebanyak 48 korban sehingga total di Provinsi Aceh menjadi 325 (orang) meninggal dunia," tuturnya.

Sementara itu, di Sumut ditemukan 12 jasad, sehingga jumlah korban meninggal dunia di sana mencapai 311 orang.

"Dan untuk Sumbar bertambah 6 korban menjadi 200 jiwa meninggal dunia," terangnya.

Terkait jumlah korban hilang di Aceh, data BNPB menunjukkan ada 170 jiwa yang belum ditemukan.

"Kemudian Sumut masih 127 jiwa dan Sumbar masih cukup banyak, 221 jiwa sehingga total korban hilang di tiga provinsi yang masih dilakukan upaya pencarian sebanyak 518 jiwa," jelasnya.

(Tribunnews.com/Gilang Putranto, Deni Setiawan) (SerambiNews.com/Jafaruddin)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved