Sabtu, 11 April 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Prabowo Kunjungi Pengungsi Bireuen Aceh, Cium Kening Anak

Warga pengungsi Bireuen sampaikan rumah hanyut, logistik terbatas, pakar ingatkan mitigasi jangka panjang.

Penulis: Taufik Ismail
Tribunnews.com/Taufik Ismail
BANJIR SUMATERA - Presiden Prabowo Subianto mencium kening seorang anak perempuan yang digendong ibunya di tengah kerumunan warga pengungsi di Gampong Pante Baro, Bireuen, Aceh, Minggu (7/12/2025). Momen ini terjadi saat Prabowo meninjau langsung kondisi pengungsi banjir dan longsor. 

Ringkasan Berita:
  • Warga pengungsi menyampaikan rumah hanyut dibawa sungai dan berharap bantuan nyata.
  • 'Pemerintah daerah didesak percepat distribusi logistik yang masih terbatas.
  • Pakar menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang untuk mencegah bencana berulang.

TRIBUNNEWS.COM, ACEH – Presiden Prabowo Subianto mengunjungi posko pengungsian banjir di Gampong Pante Baro, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (7/12/2025).

Dalam kunjungan itu, Prabowo menyapa warga, meninjau dapur umum, dan berinteraksi dengan anak-anak.

Di tenda pengungsian, ia menghampiri seorang ibu yang tengah menggendong anak perempuannya, lalu mencium kening sang balita.

Presiden juga mendengar aspirasi warga. Salah satunya Wakinah, yang menceritakan rumahnya tersapu banjir.

“Sudah diambil sungai pak rumah. Sudah tidak ada lagi,” ujarnya sambil menyalami Presiden.

Mendengar hal tersebut, Prabowo tampak mengangguk.

Prabowo kemudian menenangkan pengungsi tersebut dan menegaskan bahwa pemerintah akan menyiapkan anggaran untuk pemulihan serta penyediaan hunian bagi warga terdampak.

“Anggarannya sudah saya siapkan,” kata Presiden.

Sebelum ke tenda pengungsian, Presiden meninjau dapur umum dan sempat mencicipi menu ikan tongkol.

Setelah itu, ia memberikan pengarahan kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem.

Keduanya cukup lama berbincang mengenai penanganan pengungsi.

Logistik Terbatas, Pemerintah Didesak

Kondisi pengungsian masih serba terbatas. Ribuan warga bertahan dengan kebutuhan mendesak seperti makanan siap saji, obat-obatan, dan perlengkapan bayi.

Relawan di dapur umum mengakui pasokan logistik belum mencukupi dan distribusi bantuan perlu segera dipercepat.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menegaskan bahwa pengungsi menghadapi ancaman kelaparan akibat akses bantuan yang terhambat.

“Mereka meninggal bukan karena banjir, tapi mati kelaparan,” ujarnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved