Rabu, 8 April 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Kayu Hanyutan Jadi Material Huntara Warga Terdampak Banjir Aceh–Sumut

Kayu hanyutan banjir di Aceh–Sumut dimanfaatkan jadi huntara warga terdampak, dukung rehabilitasi pascabencana.

Penulis: Dodi Esvandi
dok. Kemendagri
KAYU HANYUTAN – Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, meninjau kawasan terdampak bencana dengan tumpukan kayu hanyutan yang kini dimanfaatkan sebagai material rehabilitasi dan rekonstruksi. 
Ringkasan Berita:
  • Kayu hanyutan banjir di Aceh–Sumut–Sumbar dimanfaatkan jadi huntara warga terdampak.
  • Data Satgas PRR: ribuan meter kubik kayu sudah digunakan untuk hunian dan fasilitas sosial.
  • Tito Karnavian: pemanfaatan sesuai regulasi kehutanan, sekaligus bisa jadi PAD daerah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kayu hanyutan akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 kini dimanfaatkan sebagai material pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.

Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengatakan skema ini dirancang untuk mendukung kebutuhan hunian hingga industri.

“Kemudian juga (bisa) dipakai masyarakat membangun (hunian) sendiri juga silakan,” kata Tito dalam keterangan pers, Jumat (3/4/2026).

Data Kayu

Menurut data Satgas PRR per 2 April 2026, realisasi pemanfaatan kayu hanyutan telah berjalan di sejumlah wilayah terdampak.

  • Aceh Utara: 2.112,11 m⊃3; kayu dimanfaatkan untuk pembangunan huntara.
  • Aceh Tamiang: 572,4 m⊃3; kayu menunggu kebijakan pemerintah daerah.
  • Tapanuli Selatan, Sumut: 329,24 m⊃3; kayu untuk huntara, fasilitas sosial, dan umum.
  • Tapanuli Tengah, Sumut: 93,39 m⊃3; kayu digunakan untuk pemulihan rumah warga.
  • Padang, Sumbar: 1.996,58 m⊃3; kayu diserahkan ke pemerintah daerah untuk rehabilitasi.

Aturan Kehutanan

Tito menegaskan pemanfaatan kayu hanyutan sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191/2026, yang mengatur pemanfaatan kayu hanyutan akibat bencana sebagai sumber daya material untuk penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Ia juga menekankan agar kayu berukuran kecil dan kurang ekonomis tetap dimanfaatkan pemerintah daerah agar bisa menjadi pemasukan asli daerah (PAD).

“Mekanismenya (melalui) kerja sama dan pendapatannya menjadi PAD (Pendapatan Asli Daerah),” kata Tito.

Baca juga: Jalanan aspal sampai bergoyang – Gempa 7,6 guncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Sampai Tumpukan Bersih

Tito memastikan percepatan pemanfaatan kayu hanyutan akan terus dilakukan sampai seluruh tumpukan bersih di titik bencana.

“Kayu (hanyutan) di Aceh sekitar 70 persen sudah ditangani, ada 30 persen belum ditangani, terutama yang di pedalaman. Kemudian di Sumbar 99 persen tertangani, dan di Sumut sudah 90 persen di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan,” ucapnya.

Pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana bukan sekadar solusi darurat, melainkan strategi rehabilitasi yang memberi manfaat langsung bagi warga terdampak sekaligus mendukung ekonomi daerah.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved