Anies Baswedan Tekankan Peran Relawan Muda Sebagai Infrastruktur Kebangasaan
Anies Baswedan menyoroti pentingnya keterlibatan warga yang memilih turun tangan, dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.
Ringkasan Berita:
- Anies Baswedan menekankan pentingnya peran generasi muda dan relawan dalam menjaga kualitas demokrasi, menyatakan bahwa kekuatan bangsa terletak pada kepedulian warganya.
- Dalam Turun Tangan Festival (TT Fest) 2025, Anies mendorong agar kerelawanan diperlakukan sebagai infrastruktur sosial yang berkelanjutan dan terhubung dengan perubahan kebijakan publik.
- Festival ini menghadirkan berbagai kelas dan ruang kolaborasi lintas daerah, menunjukkan energi kolektif gerakan akar rumput sejak 2013.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Eks Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyoroti pentingnya keterlibatan warga yang memilih turun tangan, terutama generasi muda, dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.
Sebab, Anies menyakini bahwa bangsa bisa besar bukan karena kekuatan pemimpinnya, tetapi karena kepedulian warganya.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam festival kerelawanan dan kepemimpinan Turun Tangan Festival (TT Fest) 2025 yang dihadiri oleh anak muda berbagai daerah di Jakarta.
“Demokrasi kita akan tumbuh bukan di ruang-ruang kekuasaan, tetapi di tangan anak-anak muda yang setiap hari memilih untuk peduli, memilih untuk terlibat, dan memilih untuk turun tangan. Indonesia itu bukan proyek elite melainkan karya bersama warga yang mau bergerak,” kata Anies, Senin (8/12/2025).
Kelas Kebangsaan menjadi ruang refleksi sekaligus dorongan bagi peserta yang didominasi orang muda untuk terlibat lebih aktif dalam urusan sosial, lingkungan, pendidikan, hingga isu demokrasi di daerah mereka masing-masing.
Lebih lanjut, Anies pun menyoroti pentingnya memberlakukan kerelawanan sebagai infrastruktur kebangsaan bukan hanya sambilan.
Dia juga menekankan perlunya kebijakan yang mampu memastikan relawan berkelanjutan, terhubung, dan berdampak nyata pada perubahan sosial maupun kebijakan publik.
“Kerja relawan selama ini sering dianggap ekstra, bukan strategi pembangunan bangsa. Jika kerelawanan diakui sebagai infrastruktur sosial, maka kita harus merancang cara kerja relawan agar berkelanjutan, terhubung, dan memiliki daya ubah yang nyata untuk kebijakan. Negara harus membuka pintu kolaborasi, dan kita merancang cara kerja relawan yang kokoh serta berkesinambungan,” ujar Anies.
“Republik ini dibangun melalui semangat gotong royong. Relawan pada hakikatnya adalah warga yang mengurus sesama. Mereka senantiasa menjalankan politik dalam bentuknya yang paling mulia, yaitu mengatur kehidupan bersama,” sambung Founder TurunTangan ini.
Selain Kelas Kebangsaan, TT Fest 2025 menghadirkan Kelas Demokrasi, Indonesia Volunteer Outlook 2026, hingga ruang unik yang mempertemukan peserta dan komunitas lintas daerah dengan korporasi CSR untuk buka peluang kolaborasi nyata.
TurunTangan hadir dengan spirit kerelawanan dan telah mendorong ribuan anak muda sejak tahun 2013 yang tersebar di 100 kota/kabupaten se-Indonesia.
Anies menegaskan bahwa TurunTangan harus melampaui penyelenggaraan event kebaikan dan berkembang menjadi ‘sekolah kader warga’ yang melahirkan generasi dengan keberanian moral, kemampuan mengorganisir, serta komitmen bekerja bersama komunitas.
“Festival, kelas, dan aksi sosial adalah pintu masuk untuk membangun gerakan warga yang berdaya dan terhubung dengan ruang-ruang pengambilan keputusan. Inspirasi bergerak, aksi berdampak, jadikan itu janji harian. Perubahan dimulai ketika warga biasa memutuskan untuk turun tangan menjaga republik ini,” jelasnya.
Sementara, Ketua Gerakan TurunTangan Herry Dharmawan, menegaskan bahwa festival ini merupakan bukti nyata semangat kemandirian dan kolaborasi gerakan akar rumput.
“Energi kolektif ini membuktikan bahwa anak muda tidak apatis. Mereka butuh ruang, bukan sekadar ajakan. Festival ini menunjukkan besarnya energi kolaborasi dari akar rumput,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anies-di-tt-fest.jpg)