Jumat, 15 Mei 2026

Wamen Dikti Stella: Penyebaran Hoaks dengan Teknologi AI Naik Dua Kali Lipat

Stella Christie saat hadir di IABC Indonesia Conference menyampaikan tentang pentingnya membangun pemikir digital yang berpusat pada manusia

Tayang: | Diperbarui:
HO/IST
TANGKAL HOAKS - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset (Dikti Saintek), Stella Christie saat acara IABC Indonesia Conference and Awards. Hoaks merupakan ancaman yang sangat besar dan salah satu yang paling serius di Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • IABC Indonesia menyoroti masa depan kepercayaan publik di era AI yang semakin rentan dengan deepfakes.
  • Kepercayaan publik kini merupakan mata uang utama kepemimpinan modern.
  • Penyebaran hoaks yang masif terjadi di ranah digital harus terus dilawan melalui edukasi

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah percepatan teknologi dan pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah dinamika komunikasi global, International Association of Business Communcators (IABC) Indonesia, menyoroti masa depan kepercayaan publik di era AI yang semakin rentan dengan deepfakes.

AI atau kecerdasan buatan merupakan teknologi yang membuat mesin atau sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia seperti belajar, bernalar, memecahkan masalah, mengenali pola, membuat keputusan, dan memahami bahasa, agar dapat melakukan tugas secara mandiri dan efisien, bahkan lebih cepat dari manusia.

Baca juga: Google Siapkan Kacamata Pintar Berbasis AI untuk 2026, Samsung dan Gentle Monster Terlibat

Pada acara IABC Indonesia Conference and Awards yang diadakan setiap tahun sejak 2022, kali ini fokus diskusi menitikberatkan pada komunikasi strategis berbasis kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital, dengan menghadirkan narasumber terkemuka dari sektor pemerintahan, swasta, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas.

President IABC Indonesia dan Founder & CEO VMCS Communications and Social Impact, Elvera N. Makki, menegaskan kepercayaan publik kini merupakan mata uang utama kepemimpinan modern.

Baca juga: Wamen Stella Christie Ungkap Pentingnya Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Industri Digital 

“Dalam ekosistem digital, teknologi dapat mempercepat pesan, tetapi hanya kemanusiaan yang dapat memperdalam makna. Di era AI, komunikasi strategis tidak cukup hanya akurat, namun harus empatik, etis, dan berpihak pada hak asasi manusia," paparnya dikutip Selasa (9/12/2025).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset (Dikti Saintek), Stella Christie, saat hadir di IABC Indonesia Conference menyampaikan tentang pentingnya membangun pemikir digital yang berpusat pada manusia.

Ia menekankan, penyebaran hoaks yang masif terjadi di ranah digital harus terus dilawan melalui edukasi, riset, dan bukti empiris, agar berbagai tantangan akurasi informasi dan komunikasi di Indonesia dapat ditumpas secara signifikan.

“Hoaks merupakan ancaman yang sangat besar dan salah satu yang paling serius di Indonesia," ucapnya,

“Lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman paling serius saat ini. AI mempermudah pembuatan berita hoaks, dan dalam satu tahun terakhir, penyebaran informasi palsu dengan teknologi AI meningkat hingga 2x lipat dalam satu tahun terakhir,” tambah Stella.

Terdapat empat alasan mengapa percaya hoaks, yang dijabarkan satu-persatu oleh Stella dalam forum ini, yaitu dilihat dari sisi political partisanship, cognitive reflection, prior knowledge, dan heuristic.

Baca juga: Lapor LHKPN, Wamendikti Stella Christie Punya Harta Kekayaan Rp 4,7 Miliar

“Fast-checking adalah tindakan yang selama ini kita lakukan untuk mengentaskan hoaks. Namun terdapat solusi perilaku yang patut dilakukan, yaitu solusi proaktif “prebunking”, accuracy nudge, solusi sistemik wisdom of crowd , dan solusi jangka panjang, yaitu edukasi,” papar Stella.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono yang turut hadir sebagai keynote speaker menyatakan pentingnya komunikasi kesehatan dalam membangun kepercayaan publik untuk hidup yang lebih baik.

“Kepercayaan adalah aset yang paling berharga di dalam dunia kesehatan sekaligus yang paling rapuh. Untuk itu, pembenahan perlu dilakukan di semua sektor di bidang kesehatan," paparnya.

"Kementerian Kesehatan terus memperkuat komunikasi publik yang transparan, mudah dipahami serta menyentuh hati masyarakat karena perubahan sistem pola hidup tidak bisa seperti membalik tangan, sebelum tersentuh hatinya," sambungnya.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved