Jumat, 8 Mei 2026

PBNU dan Dinamika Organisasinya

Ketua Umum PBNU Gus Yahya Singgung Ada yang Merasa Terancam Privilegenya Dalam Konstruksi Baru

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya menyinggung konstruksi baru dalam transformasi khususnya soal organisasi.

Tayang:
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews.com/Abdi Ryanda Shakti
KONFLIK PBNU - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya memberikan keterangan di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025). Ia menyinggung soal kontruksi baru di dalam transformasi khususnya soal organisasi. 

Ringkasan Berita:
  • PBNU harus memiliki peran di era reformasi dengan menempatkan diri sebagai rekan atau partner dengan pemerintah
  • Keturunan Kiai yang kerap dipanggil Gus sudah tidak ada lagi memiliki keistimewaan seperti era sebelumnya
  • Gus tidak punya privilege yang setinggi dulu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya menyinggung konstruksi baru dalam transformasi khususnya soal organisasi.

Hal ini dikatakan Gus Yahya dalam sebuah diskusi Forum Keramat dengan mengambil tema NU dalam Transformasi Indonesia, Belajar dari Sejarah untuk Menentukan Arah di Kantor PBNU, Jakarta Pusat pada Selasa (9/12/2025).

Awalnya, Gus Yahya menegaskan PBNU harus memiliki peran di era reformasi dengan menempatkan diri sebagai rekan atau partner dengan pemerintah.

"Artinya pemerintah maunya apa, NU berpikir apa mari kita rundingkan kita buat kesepakatan lalu kita kerjakan bersama, karena ini kebutuhannya kebutuhan kita bersama, kebutuhan transformasi itu," kata Gus Yahya.

Kemudian, Gus Yahya pun menyinggung dalam transformasi pastinya akan terbentuk konstruksi baru.

Baca juga: Rapat Pleno PBNU 9 Desember 2025, Rais Syuriah: Agenda Tunggal Mencari Pj Pengganti Gus Yahya

Namun, dalam membangun konstruksi baru itu, tidak bisa dipungkiri ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

"Nah ketika kita bangun konstruksi baru memang biasanya ada yang pertama kemudian merasa terancam privilegenya karena ndak masuk dalam kontruksi baru ini, ada yang malah ketinggalan sama sekali, ada yang privilege tadinya di masa yang lalu privilege tuh bernilai tinggi tapi kemudian di dalam konstruksi baru menjadi relatif berkurang, ya seperti sekarang ini, sebetulnya sudah bertransformasi kita ini secara alami," ucapnya.

Dia pun juga menyinggung soal sulitnya untuk menjadi pengurus di PBNU.

Baca juga: Gus Yahya Persilakan Dugaan Aliran Rp 100 Miliar Diusut: Kita Semua Taat Hukum

Bahkan para keturunan Kiai yang kerap dipanggil Gus sudah tidak ada lagi memiliki keistimewaan seperti era sebelumnya.

"Gus itu, dulu itu privilegenya luar biasa, apalagi Gus besar seperti saya ini. Tapi sekarang Gus itu ya semuanya Gus, sehingga Gus itu tidak punya privilege yang setinggi dulu, jadi sudah kontruksi baru sekarang ini, begitu juga kyainya," jelasnya.

"Sehingga di NU ini juga nantinya juga akan begitu, ketika kita membangun konstruksi baru ada yang khawatir privilege atau currency lamanya tidak laku lagi di dalam dunia yang baru," sambungnya.

Isu Pemakzulan

Seperti diketahui, isu pemakzulan Gus Yahya tengah menjadi perbincangan publik beberapa waktu belakangan.

Pengurus Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberhentikan KH Yahya Stquf atau Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum.

Pemberhentian tersebut disampaikan melalui Surat Edaran Nomor: 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 tentang tindak lanjut Keputusan Rapat Harian Syuriah PBNU

Surat bertanggal 25 November 2025 tersebut ditandatangani oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir dan Katib Aam PBNU KH. Ahmad Tajul Mafatikhir. 

Dalam surat tersebut PBNU akan segera menggelar Rapat Pleno untuk menentukan pimpinan dari PBNU

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved