Banjir Bandang di Sumatera
Ajakan Patungan Beli Hutan Dinilai Jadi Terobosan Baru Selamatkan Lingkungan
Daniel menilai inisiatif tersebut lahir dari rasa kekecewaan publik terhadap degradasi hutan yang terus terjadi dan menimbulkan bencana ekologis.
Ringkasan Berita:
- LSM Pandawa Group melemparkan gagasan baru di tengah bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra yang kembali dikaitkan dengan masifnya deforestasi.
- Pandawara Group imbau masyarakat patungan membeli hutan yang terancam alih fungsi
- Keberadaan hutan lebat dalam upaya penyelamatan lingkungan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa(PKB), Daniel Johan, menilai ajakan Pandawara Group agar masyarakat patungan membeli hutan yang terancam alih fungsi dapat menjadi terobosan baru dalam upaya penyelamatan lingkungan.
Apalagi jika ajakan itu benar-benar berhasil diwujudkan.
Pandawara Group, kelompok aktivis lingkungan muda asal Bandung, sebelumnya melemparkan gagasan itu melalui unggahan Instagram.
Gagasan itu muncul di tengah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra kembali dikaitkan dengan masifnya deforestasi.
"Ide ini kalau berhasil akan menjadi terobosan baru menyelamatkan hutan dan dengan patungan artinya hutan menjadi milik rakyat, bukan hutan milik negara semata. Rakyat punya andil dalam menjaga dan menyelamatkan hutan," kata Daniel kepada Tribunnews.com, Kamis (11/12/2025).
Daniel menilai inisiatif tersebut lahir dari rasa kekecewaan publik terhadap degradasi hutan yang terus terjadi dan menimbulkan bencana ekologis.
Menurut dia ajakan itu sekaligus menjadi “tamparan” bagi pemerintah yang dinilai terlalu mudah memberikan izin konsesi tanpa pengawasan memadai.
"Ini bentuk tamparan buat pengambil kebijakan yang dengan mudah memberikan izin konsensi tanpa pengawasan yang baik," ujar Daniel.
Kasus beli hutan sebelumnya
Daniel juga menyinggung contoh filantrop lingkungan, pendiri The North Face, yang membeli sekitar dua juta hektar hutan di Chile dan Argentina untuk dilindungi dari deforestasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan perlunya kolaborasi semua pihak untuk memastikan pengelolaan hutan yang lebih bertanggung jawab.
"Saatnya semua bersatu padu, melihat, mengawasi kinerja pemerintah dalam mengelola hutan. Hutan yang rusak seperti saat ini warisan belasan-puluhan tahun lalu. Kita tidak ingin kembali merusak hutan yang tersisa, harus di jaga dan dilestarikan," imbuh Daniel.
Masalah penggundulan hutan belakangan ini jadi sorotan menyusul banjir bandang yang melanda Sumatera.
Sejumlah pihak menilai penggundulan hutan ikut memperparah banjir Sumatera.
Indikasi adanya penggundulan hutan terlihat dari banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus banjir.
Kayu gelondongan yang berukuran besar ini diduga ditebang dari hutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-hutan-1.jpg)