Jumat, 10 April 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Guru Besar UI soal Bencana Sumatra: Tawaran Bantuan dari Asing Bentuk Solidaritas

Hikmahanto Juwana menilai, menerima bantuan dari asing bukan berarti Indonesia tak mampu menghadapi bencana yang terjadi di Sumatra.

Tribun Jakarta/Dwi Putra Kesuma
KERUSAKAN AKIBAT BENCANA - Foto pantauan udara di Kecamatan Tuka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang mengalami kerusakan cukup parah pasca dilanda banjir dan longsor. Tumpukan potongan kayu berukuran yang terbawa banjir dari perbukitan sekitar pun masih ada di lokasi ini, Kamis (4/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Presiden RI Prabowo Subianto masih menolak bantuan dari asing untuk menangani bencana di Sumatra.
  • Menurut Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana, menerima bantuan dari asing bukan berarti Indonesia tak mampu menghadapi bencana.
  • Bantuan dari asing untuk mengatasi bencana merupakan suatu bentuk solidaritas.

TRIBUNNEWS.COM - Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana menilai, menerima bantuan dari asing bukan berarti Indonesia tak mampu menghadapi bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar).

Ia menyebut, bantuan dari asing merupakan suatu bentuk solidaritas, bukan semata-mata ditafsirkan bahwa Indonesia tak mampu menangani bencana di Sumatra.

"Kalau ada bantuan dari luar negeri ini tidak semata-mata sama dengan mengatakan bahwa Indonesia kamu tidak mampu. Oleh karena itu kita bantu. Tidak semata-mata seperti itu." 

"Tetapi bisa saja ada negara-negara yang ingin membantu karena punya solidaritas," ujar Hikmahanto dalam acara On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Rabu (17/12/2025).

Peraih gelar doktor dari University of Nottingham ini mencontohkan, Amerika Serikat (AS) pernah menerima bantuan asing ketika dilanda kebakaran hebat.

Meskipun AS dikenal sebagai negara yang kuat dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, bantuan dari negara lain tetap datang karena ada rasa solidaritas.

"Kita tahu secara teknologi, secara kemampuan mungkin di Amerika sendiri bisa menyelesaikan masalahnya, tetapi karena ada rasa solidaritas, bahkan mungkin ada relawan-relawan yang akan masuk, tetapi mereka disalurkan melalui negaranya untuk membantu mereka-mereka yang akan terdampak," jelasnya.

Oleh karena itu, Hikmahanto menegaskan, bantuan dari negara lain tak seharusnya ditafsirkan seolah-olah Indonesia tidak mampu.

"Jadi tidak harus semata-mata ditafsirkan sebagai seolah-olah kita tidak mampu, tapi karena ada solidaritas yang kemudian memberi kesempatan kepada negara lain kalau dia akan membantu," ucapnya.

Hikmahanto menyebut, Indonesia juga pernah memberikan bantuan kepada negara-negara lain.

"Walaupun kita tahu bahwa negara-negara ini sebenarnya negara-negara yang kuat, tetapi untuk rasa solidaritas itu kita perlu munculkan," terangnya.

Baca juga: Prabowo Bilang Situasi Banjir Sumatra Terkendali, Greenpeace: Pemerintah Belum Ada Langkah Nyata

Meski begitu, bantuan dari luar negeri bisa saja ditolak jika ternyata ada hal-hal yang bisa mengganggu kedaulatan Indonesia.

"Kalau misalnya bantuan-bantuan itu kemudian dijadikan instrumen untuk membuat kita tergantung terus kemudian ada pendiktean-pendiktean dari luar negeri tentu tidak boleh," paparnya.

Prabowo Tolak Bantuan Asing

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto mengaku ditelepon kepala negara lain yang ingin memberikan bantuan untuk menangani bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Awalnya, Prabowo mengapresiasi inisiatif para menteri, Panglima TNI, hingga Kapolri dalam menangani bencana yang menewaskan ribuan orang ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved