Dualisme Raja di Keraton Solo
GKR Timoer Rumbai Protes Tedjowulan Jadi Plt Keraton Solo, Surati Kemendikbud hingga Prabowo
GKR Timoer Rumbai protes Tedjowulan ditetapkan Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton
Ringkasan Berita:
- Penetapan Tedjowulan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memunculkan protes dari kubu Gusti Purbaya dan GKR Timoer Rumbai
- Sebab, pihaknya mengklaim, status Tedjowulan sebagai Maha Menteri KG Panembahan Agung resmi berakhir setelah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII wafat
- Pihaknya pun mengajukan surat keberatan kepada Kementerian Kebudayaan hingga Presiden RI Prabowo Subianto
TRIBUNNEWS.COM - Polemik kepemimpinan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat semakin memanas setelah Maha Menteri KG Panembahan Agung Tedjowulan ditetapkan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Penetapan ini disampaikan Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, dalam rangka penyerahan Keputusan Menteri Kebudayaan RI Nomor 8 Tahun 2026 di Keraton Kasunanan Surakarta (Solo), Minggu (18/1/2026).
Tedjowulan diketahui adalah putra kelima Pakubuwono XII dengan nama dan gelarnya Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung (KGPHPA) Tedjowulan yang menjabat sebagai Mahamenteri, posisi tertinggi kedua setelah raja.
Setelah Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, wafat pada Minggu (2/11/2025), muncul polemik terkait sosok yang mengantikannya.
Dualisme kepemimpinan pun muncul, yakni Gusti Purbaya (KGPAA Hamengkunegoro) dan Gusti Hangabehi (KGPH Mangkubumi).
Kedua belah pihak saling mengklaim sebagai PB XIV.
Dengan kondisi ini, maka Tedjowulan diangkat sebagai Plt, penanggung jawab atau pemimpin sementara Keraton Kasunanan Surakarta (Solo).
GKR Timoer Rumbai Kusuma Protes
Terkait penetapan itu, dua putri mendiang Pakubuwono (PB) XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani dan GRAY Devi Lelyana Dewi pun protes hingga melayangkan surat keberatan kepada Kementerian Kebudayaan.
Aksi protes itu disampaikan secara spontan oleh GKR Timoer Rumbai di hadapan Fadli Zon dan tamu undangan.
Aksi tersebut, lantas menyita perhatian publik dan para undangan yang hadir karena situasi yang memanas.
Baca juga: Aksi Protes Warnai Agenda Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Keraton Solo
Dalam konferensi persnya, Minggu, GKR Timoer Rumbai mengatakan pihaknya merasa kecewa karena tak diajak diskusi soal penetapan Tedjowulan ini.
Di hadapan awak media, GKR Timoer Rumbai mengaku merasakan adanya sikap ketidakadilan dalam proses pengambilan keputusan bersama Menteri Kebudayaan.
"Sebetulnya kami ini seperti tidak diorangkan, tidak diundang dan tidak diorangkan.
"Karena apapun keraton ini (rumah kami). Istilahnya kalau rumah itu ada tuan rumahnya dan kami sebagai tuan rumah tidak diberitahu untuk acara tersebut," kata GKR Timoer Rumbai dikutip dari YouTube Tribunnews.com.
Oleh karena itu, maka pihaknya mengambil sikap dengan melayangkan surat keberatan kepada pemerintah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/GKR-Timoer-Rumbai-putri-PB-XIII-123.jpg)