Pesan Pemerintah Sering Tak Dibaca? Komdigi: Humas Wajib Kreatif dan Visual
Komdigi menilai humas pemerintah harus kreatif dan visual agar pesan publik tak tenggelam di tengah banjir konten digital.
Ringkasan Berita:
- Komdigi menilai pola konsumsi informasi publik kini semakin cepat dan visual.
- Humas pemerintah dituntut kreatif agar pesan negara dibaca dan dipahami.
- Katadata menekankan pentingnya visualisasi data dalam komunikasi publik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Transformasi digital mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi.
Di tengah banjir konten yang muncul setiap detik, humas pemerintah menghadapi tantangan baru: memastikan pesan negara tidak hanya sampai, tetapi juga benar-benar dibaca, dipahami, dan relevan bagi publik.
Perubahan perilaku audiens menjadi salah satu faktor utama.
Masyarakat kini cenderung mengakses informasi secara cepat, memilih konten singkat, visual, dan mudah dipahami ketimbang teks panjang.
Perwakilan Direktorat Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Angki Kusumadewi, mengatakan pola konsumsi informasi publik telah berubah signifikan.
"Masyarakat kini cenderung melakukan scanning, serta lebih menyukai konten audiovisual dibandingkan teks panjang," ujar Angki dalam kegiatan Aksi Bakohumas Masterclass Pengelolaan Konten, dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Menurut dia, humas pemerintah tidak lagi cukup hanya menyampaikan informasi secara normatif.
Di era digital, humas dituntut mampu mengemas pesan publik secara kreatif, sederhana, dan relevan agar tidak tenggelam di tengah derasnya arus konten.
"Intinya bagaimana humas bisa kreatif di tengah terpaan konten digital yang begitu masif, sehingga informasi yang disampaikan tidak hanya sampai, tetapi juga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat," katanya.
Baca juga: Menteri PPPA Minta Maaf Soal Usul Gerbong Wanita di KRL: Saya Tak Berniat Abaikan Keselamatan
Data Penting Kerap Kalah oleh Kemasan
Tantangan komunikasi publik, lanjut Angki, bukan semata soal kecepatan distribusi, melainkan juga efektivitas penyampaian.
Hal senada disampaikan narasumber dari Katadata, Muhammad Yana.
Ia menilai banyak data penting justru gagal menjangkau audiens bukan karena kualitas datanya, melainkan karena penyajiannya kurang menarik.
"Bayangkan kita punya data yang sahih dan penting, tapi setelah dipublikasikan tidak ada yang membaca. Pertanyaannya, yang salah datanya atau kemasannya?" ujar Yana.
Menurut dia, kemampuan mengolah data menjadi konten visual kini menjadi kebutuhan mendasar bagi humas pemerintah.
Ketika informasi disajikan dalam teks yang panjang dan kompleks, publik cenderung melewatinya. Sebaliknya, visual yang kuat mampu menyederhanakan informasi rumit sekaligus meningkatkan pemahaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ditjen-Komunikasi-Publik-dan-Media-Kementerian-Komunikasi-dan-Digital-Komdigi.jpg)