Selayang Pandang Ikhtiar Konservasi Alam Indonesia Masa Hindu-Buddha
Sejak masa Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia sudah mengupayakan konservasi alam dan menjaga lingkungan.
Untuk menutup pemaparannya, Goenawan kembali menggarisbawahi bahwa aturan-aturan tentang menjaga alam pada masa klasik dibuat demi kesejahteraan bersama.
Tantangan Merumuskan Strategi Konservasi
Sarasehan konservasi oleh Komunitas Kandang Kebo digelar di tengah banyaknya bencana alam yang mendera Indonesia dalam beberapa bulan belakangan. Ketua Kandang Kebo Maria Tri Widayati menyebut bencana di Indonesia tidak hanya dipicu oleh faktor alamiah, tetapi juga akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, misalnya deforestasi dan eksploitasi alam yang kelewat batas.
Seperti Goenawan, Maria menegaskan bahwa leluhur bangsa Indonesia sebenarnya sudah memberikan contoh tentang bagaimana melangsungkan hidup tanpa harus merusak alam.
“Padahal kalau kita lihat masa lalu, leluhur kita sudah hidup selaras dengan alam. Hutan, sungai, dan mata air dijaga dengan penuh hormat. Ada nilai dan kearifan lokal yang mengajarkan bahwa alam bukan untuk dirusak, tetapi untuk dirawat demi keberlangsungan hidup bersama,” ujar Maria menjelaskan.
Menurut dia, salah satu korban bencana alam selain manusia ialah cagar budaya (CB) dan obyek diduga cagar budaya (ODCB). Oleh karena itu, ada silang terkait antara pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian obyek warisan budaya.
Maria berharap sarasehan terbaru Kandang Kebo bisa menelurkan gagasan dan strategi untuk merumuskan strategi konservasi dengan berlandaskan kearifan masa lalu. Strategi itu bisa digunakan untuk menjawab tantangan masa sekarang dan menyongsong masa yang akan datang.
Baca juga: Sarasehan Komunitas Kandang Kebo & Disbud Sleman: Nisan Makam Penanda Zaman, Kupas Nilai Sejarah
Selain Goenawan, dalam sarasehan itu hadir pula dua narasumber lain: Yustinus Suranto yang dikenal sebagai perintis sekaligus pemerhati kayu budaya Nusantara dan Dyahning Retnowati dari BKSDA DIY.
Sarasehan diakhiri dengan aksi penanaman bibit pohon secara bersama. Di tengah suasana mendung dan suhu siang hari yang agak menyengat, puluhan peserta sarasehan tampak antusias menggali lubang dan melesakkan akar bibit tanaman ke dalamnya.
Adapun ratusan bibit pohon yang ditanam merupakan donasi dari
- Balai Pengelola DAS Serayu, Opak, dan Progo;
- Kebun Bibit Kelompok Pecinta Alam Banyugiri, Pakis, Magelang;
- Masyarakat Ficus Indonesia Kediri;
- Komunitas Taman Lestari;
- Mas Kliwon (Komunitas Pecinta Kali Winongo);
- Agus Hendratno.
Perihal Kandang Kebo, Maria mengungkapkan komunitas yang dinakhodainya itu dibentuk pada tahun 2015 dan berfokus pada pelestarian budaya.
“Nama Kandang Kebo sendiri menggambarkan kami sebagai orang bodoh, namun mau belajar, mengingatkan kita pada simbol kesahajaan, ketekunan, sekaligus kekuatan gotong royong masyarakat agraris,” ucap Maria.
Dia berujar Kandang Kebo rutin menyelenggarakan acara blusukan ke situs cagar budaya dan menggelar sarasehan. Menurut dia, Kandang Kebo berkomitmen menjadi tempat belajar, berkreasi, dan menjadi wadah pewarisan budaya bagi generasi muda.
Makam yang Tidak Dibuat Angker
Makam Seniman Girisapto yang menjadi tempat sarasehan terletak di sebuah bukit di Imogiri, tepatnya di seberang Makam Raja-Raja Mataram. Makam ini dibangun oleh Saptohoedojo, seorang maestro seni rupa Indonesia.
Berdasarkan pantauan Tribunnews, terdapat sejumlah seniman terkenal dari Yogyakarta yang dikebumikan di sini, misalnya pelukis Djoko Pekik (wafat 2023) dan seniman ketoprak Bondan Nusantara (wafat 2022).
Yani Saptohoedojo, istri Saptohoedojo, mengungkapkan alasan dibangunnya makam khusus seluas sekitar 5 hektare itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penanaman-pohon-makam-seniman-girisapto.jpg)