Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu: Pemahaman Keliru tentang Borobudur yang Telanjur Meluas
Konsep kamadathu, rupadathu, dan arupadathu yang disematkan pada Candi Borobudur disebut sebagai suatu kekeliruan.
Ringkasan Berita:
- Pembagian tingkat Candi Borobudur menjadi tridhatu adalah kekeliruan.
- Tidak ada bukti yang bisa menjadi dasar pembagian tingkatan kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu.
- Kekeliruan ini berawal dari penafsiran W.F. Stutterheim secara kurang hati-hati.
TRIBUNNEWS.COM - Susah disangkal bahwa Candi Borobudur, monumen tunggal bercorak Buddha terbesar di dunia, masih diselimuti banyak kabut misteri yang belum bisa disingkap secara memuaskan.
Penafsiran yang kurang hati-hati mengenai Borobudur terkadang berujung pada kekeliruan pemahaman, salah satunya mengenai konsep tridhatu (pembagian tiga alam), yakni kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu yang kerap disematkan pada Borobudur.
Kamadhatu (alam hawa nafsu) jamak dipahami sebagai tingkat terbawah Borobudur, rupadhatu (alam berwujud) sebagai tingkat tengah, dan arupadhatu (alam tak berwujud) sebagai tingkat tertinggi. Padahal, hal seperti itu keliru dan tidak ada dasar/sumbernya.
Kekeliruan pemahaman itulah yang membuat Deny Hermawan, wartawan Bernas yang pernah pernah menjalani Samanera (calon bhikkhu atau petapa kecil), merasa resah dan terpantik untuk membuka diskusi mengenai Borobudur.
Deny berkata konsep tridhatu dari yang dilekatkan pada Borobudur sebetulnya tidak memiliki bukti atau sumber sahih dari prasasti, relief, maupun sutra-sutra Buddha.
"Kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu tidak memilik basis tekstual," kata Deny dalam diskusi dwimingguan bertajuk "Pemahaman tentang Borobudur yang Keliru" di markas Komunitas Kandang Kebo di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY, Minggu pagi, (14/12/2025).
Sayangnya kekeliruan itu telanjur tersebar luas dan terlestarikan, misalnya, lewat buku-buku sejarah siswa sekolah, papan informasi di museum, dan cerita para pemandu wisata.
Deny bercerita bahwa konsep tridhatu itu awalnya dikenalkan oleh seorang sarjana Belanda bernama Willem Frederik Stutterheim (1892—1942). Stutterheim mengambil istilah itu dari kitab Sang Hyang Kamahayanikan (SHK), literatur kuno yang bisa menjadi petunjuk untuk menjelaskan Borobudur.
Akan tetapi, Stutterheim membuat kekeliruan karena tidak membaca SHK secara teliti. Di samping itu, terjemahan SHK dalam bahasa Belanda oleh J. Kats mudah ditafsirkan secara keliru.
Deny menyebutkan sejumlah orang yang membantah konsep tridhatu pada Borobudur, misalnya Bhikkhu Santacitto, pakar arsitektur Salim Lee, dan budayawan Hudaya Kandahjaya.
"Jadi, Pak Hudaya meyakini kitab SHK ditulis seera dengan Borobudur. Tapi ketika Stutterheim mengambil konsep tiga dathu dari SHK dan menempelkannya untuk menjelaskannya Borobudur, menurut Pak Hudaya, itu keliru," ujar Deny.
"SHK adalah sumber ilham Stutterheim, tetapi Stutterheim tidak membaca SHK secara teliti."
"Ketiga dhatu itu memang ada di Borobudur, tetapi yang direpresentasikan Borobudur melampaui ketiga dhatu itu. Jadi, tidak pas kalau Borobudur dibagi menjadi tiga dhatu itu," katanya menjelaskan.
Baca juga: Sarasehan Komunitas Kandang Kebo & Disbud Sleman: Nisan Makam Penanda Zaman, Kupas Nilai Sejarah
Deny menyebut sudah ada kajian yang membantah konsep tridhatu itu, misalnya makalah "Re-examining the Division of Candi Borobudur into Kamadhatu, Rupadhatu, and Arupadhatu" yang ditulis oleh So Tju Shinta Lee, Agus Aris Munandar, dan Lilawati Kurnia yang terbit di SPAFA Journal.
Lalu, dia berharap informasi yang tentang kekeliruan mengenai Borobudur itu disebarluaskan di tengah masyarakat agar kesalahan tidak terus-menerus dilakukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Acara-diskusi-Komunitas-Kandang-Kebo.jpg)