Dewan Ekonomi Nasional Dukung Prabowonomics karena Utamakan Rakyat, Singgung Industri Tembakau
Prabowonomics dianggap menjadi jurus Prabowo dalam menghadapi tantangan dan gejolak ekonomi global.
Ringkasan Berita:
- Gagasan Prabowonomics lebih mengedepankan kepentingan nasional untuk kesejahteraan rakyat
- Prabowonomics dianggap menjadi jurus Prabowo dalam menghadapi tantangan dan gejolak ekonomi global, sehingga Prabowonomics disebut bisa mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri
- Dewan Ekonomi Nasional menekankan pentingnya untuk memperkuat berbagai industri dalam negeri, salah satunya komoditas tembakau yang menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar ke negara
TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, mendukung kebijakan Prabowonomics yang diusung Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, terutama di tengah situasi ekonomi dan geopolitik global yang tidak pasti.
Sebab, gagasan Prabowonomics lebih mengedepankan kepentingan nasional untuk kesejahteraan rakyat.
Adapun, Prabowonomics ini berisi sejumlah kebijakan serta hasil kerja pemerintahan Presiden Prabowo selama satu tahun terakhir.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, mengatakan bahwa Prabowonomics adalah konsep ekonomi yang selama ini sudah dijalankan Prabowo, baik sebelum maupun setelah menjadi Presiden RI.
Prabowonomics ini berfokus pada pembangunan ekonomi yang berbasis pada kedaulatan pangan, energi, dan peningkatan daya saing industri nasional.
Kebijakan ekonomi Prabowonomics menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan penghapusan kemiskinan absolut dengan fokus pada investasi, ekspor, serta pengembangan sektor-sektor strategis seperti pertanian, manufaktur, dan teknologi.
Oleh karena itu, gagasan Prabowonomics itu pun dianggap menjadi jurus Prabowo dalam menghadapi tantangan dan gejolak ekonomi global, sehingga Prabowonomics disebut bisa mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri.
“Melihat pidato presiden di Davos, sebetulnya buat saya cukup jelas ya bahwa Indonesia first dan saya rasa dari dulu juga kita memang harus menetapkan posisi kita di Indonesia dalam konteks global seperti itu."'
"Yang pertama kita harus melindungi kepentingan nasional, jadi apapun interaksi kita dengan global dan internasional pasti yang harus dikedepankan adalah kepentingan nasional,” ujar Mari Elka dalam diskusi bertajuk “Tantangan Prabowonomics Setelah Davos: Gonjang-Ganjing Pasar dan Intervensi Asing” yang digelar Total Politik, di Menteng, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Mari Elka lantas menekankan pentingnya untuk memperkuat berbagai industri dalam negeri, salah satunya komoditas tembakau yang menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar ke negara.
Menurut dia, jangan sampai pemerintah ikut memperparah dengan menekan dan mempersulit industri hasil tembakau dalam negeri.
Baca juga: Prabowonomics di WEF Davos, Akademisi: Pesan untuk Global Soal Arah Strategis Indonesia
Mari Elka menyebut Amerika Serikat pernah menekan industri hasil tembakau asal Indonesia.
“Jadi dulu saya sebagai Mendag (Menteri Perdagangan), saya berantem sama Amerika karena dia melanggar azas yang paling fundamental di WTO (World Trade Organization), yaitu diskriminasi."
"Waktu itu Amerika melarang ekspor tembakau dari Indonesia dengan alasan kretek itu menciptakan rasa yang manis atau yang enak sehingga anak muda itu menjadi addicted kepada rokok,” cerita Mari Elka.