Sengketa Hotel Sultan
Cerita di Balik Sengketa Lahan Hotel Sultan: Sunyi di Tower 1 dan Lantai 15 yang Berdebu
Tower 1 Hotel Sultan berdiri seperti monumen bisu di tengah riuh sengketa lahan Hotel Sultan.
Baginya, sepinya menara ini bukan sekadar karena isu hukum, tapi juga karena akses yang "tercekik". Penutupan akses kendaraan dari arah Gatot Subroto membuat hotel semakin sulit dijangkau.
“Mulai sepi sejak akses ke Jalan Gatot Subroto ditutup. Sekarang cuma bisa lewat Sudirman. Orang jadi malas masuk karena aksesnya susah,” keluhnya.
Keputusan manajemen mengosongkan Tower 1 adalah strategi bertahan hidup yang pragmatis.
Dengan tingkat keterisian (okupansi) yang merosot hingga di bawah 10 persen, menghidupkan dua menara sekaligus adalah pemborosan yang bunuh diri.
“Kalau tetap dipaksakan di Tower 1, beban listriknya berat sekali. Jadi semua dikumpulkan di Tower 2 untuk efisiensi,” lanjut Misbakun.
Baca juga: Transisi Hotel Sultan, Pemerintah Tegaskan Tidak Korbankan Pekerja
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Meski bayang-bayang eksekusi lahan terus menghantui melalui pemberitaan, para pekerja di sana mencoba tetap tegak.
Rio, seorang petugas engineering veteran, masih berkeliling memastikan setiap sekrup dan kabel berfungsi, meski entah untuk siapa.
"Tamu-tamu sering tanya, 'Mas, gimana ini soal eksekusi?'. Saya cuma bilang aman, kita kerja ya kerja saja," ujar Rio tenang.
Meski begitu, ia bersyukur para pegawai tetap menerima gaji penuh. “Alhamdulillah aman terus. Walaupun tamu berkurang, kita tetap kerja,” ujarnya.
Baginya, The Sultan telah melampaui badai pandemi COVID-19 tanpa PHK, dan ia percaya badai hukum ini pun akan berlalu.
Kini, tower 1 berdiri seperti monumen bisu di tengah riuh sengketa lahan Hotel Sultan.
Di tengah jantung Jakarta yang paling bergengsi, sebuah menara megah sedang tertidur paksa, menunggu kepastian apakah ia akan terbangun kembali atau justru runtuh menjadi kenangan.