Rabu, 29 April 2026

Kelompok Bersenjata di Papua

Paman Kopilot Smart Air yang Tewas di Papua: 'Kok Bisa Bandara Tanpa Pengamanan?'

Baru lima hari bertugas, kopilot Smart Air tewas ditembak KKB di Papua. Keluarga soroti lemahnya pengamanan bandara sipil.

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
TribunJakarta.com/Bima Putra/Bima Putra
PAMAN KORBAN PENEMNAKAN KKB - Doni Widiatmoko (56) paman dari Baskoro Adi Anggoro (29), Kopilot Smart Air korban penembakan dilakukan KKB di Bandar Udara Koroway Batu, Boven, Papua Selatan, Selasa (11/2/2026). Doni memberi keterangan kepada awak media di rumah duka di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026). TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA 

Ringkasan Berita:
  • Kopilot Smart Air Baskoro Adi Anggoro (29) tewas ditembak KKB sesaat setelah pesawat mendarat di Bandar Udara Koroway Batu 
  • Baru lima hari bertugas di rute Papua, Baskoro meninggal saat menjalankan penerbangan sipil 
  • Keluarga mempertanyakan minimnya pengamanan bandara dan mendesak pemerintah menjamin keselamatan penerbangan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Terungkap, Baskoro Adi Anggoro (29), kopilot maskapai Smart Air yang tewas usai pesawat yang diawakinya ditembaki Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bandar Udara Koroway Batu baru lima hari kerja di Papua

Bagi keluarga, tragedi ini bukan sekadar kehilangan orang tercinta, melainkan juga menyisakan pertanyaan besar tentang keamanan bandara. 

Paman korban, Doni Widiatmoko (56), mengaku sulit menerima kenyataan bahwa keponakannya gugur di lokasi yang semestinya steril dan aman.

“Kalau penerbangan sipil, seharusnya bandara dijaga. Ini bukan wilayah perang, ini tempat pesawat membawa warga sipil,” ujar Doni saat ditemui di rumah duka kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026).

Keluarga mengaku terkejut ketika mengetahui penembakan terjadi di area bandara.

Baca juga: Menko Polkam Sebut Keamanan Papua Jadi Perhatian Serius Pemerintah

Menurut mereka, aspek pengamanan menjadi hal mendasar yang seharusnya sudah dipastikan sebelum kru dan penumpang diterbangkan ke wilayah tersebut.

“Orangtua Baskoro juga kaget. Kok bisa bandara tanpa pengamanan? Itu yang terus kami pertanyakan,” lanjut Doni.

Kepergian Baskoro meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

Anak pertama dari dua bersaudara itu dikenal sebagai pribadi humoris, hangat, dan penuh tanggung jawab.

Di rumah, ia kerap menjadi sumber keceriaan, sosok yang mudah mencairkan suasana.

Namun di balik kenangan itu, keluarga berharap tragedi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah.

Mereka mendesak adanya langkah konkret untuk menjamin keselamatan penerbangan sipil, khususnya di bandara-bandara perintis Papua yang berada di wilayah rawan gangguan keamanan.

“Jangan sampai ada korban berikutnya. Penerbangan sipil itu penting untuk masyarakat Papua, tapi keselamatan kru dan penumpang juga harus jadi prioritas,” tegas Doni.

Diketahui, pesawat Smart Air yang diawaki Baskoro dan pilot Egon Erawan berangkat dari Bandar Udara Tanah Merah pada pukul 10.38 WIT, Rabu (11/2/2026).

Pesawat membawa 12 penumpang dewasa dan satu bayi, lalu mendarat di Koroway Batu sekitar pukul 11.05 WIT.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved