Ray Rangkuti Nilai Peran Oposisi di Rezim Prabowo Kian Meredup
Padahal, oposisi merupakan elemen krusial dalam demokrasi untuk mencegah lahirnya kekuasaan yang otoriter.
Sementara itu, oposisi jalanan disebut Ray bersifat tidak terduga dan belum terkelola dengan baik. Karena itu, ia mendorong penyusunan ulang arah dan kekuatan oposisi agar lebih struktural dan bermakna dalam fungsi pengawasan.
“Kalau oposisi jalanan terkelola, tidak perlu ada peristiwa seperti Agustus 2025 kemarin, tapi politiknya bisa berubah,” ujarnya.
Baca juga: Macet Hilang saat Prabowo Datang, Potret Palmerah Bersih Tanpa PKL Jadi Suasana Dambaan Warga
Ray menegaskan, tanpa oposisi yang kuat dan adil, demokrasi Indonesia berada dalam posisi rawan.
"Kalau negara demokrasi tanpa oposisi yang kuat, artinya Anda sedang membuka pintu munculnya otoritarianisme. Begitu pum saat menyebut diri oposisi, harus dibuktikan. Lima tahun ke depan, tidak bergabung dengan kekuasaan,” pungkas Ray.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto telah melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh posisi, pada Jumat malam 30 Januari 2026. Presiden berdiskusi mengenai pengelolaan negara dengan para tokoh tersebut.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membenarkan bahwa Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh, namun ia tidak sepakat bila tokoh tersebut disebut oposisi. Pertemuan itu kata Prasetyo dilakukan di kediaman Presiden Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta.
"Iya (di Kertanegara)," katanya di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu, (31/1/2026).
Dalam pertemuan, Presiden kata Prasetyo membahas sejumlah topik, mulai dari kepemiluan, hingga penegakan hukum.
Prasetyo mengatakan pertemuan tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh.
"Ya, diantaranya ada Profesor Siti Zuro, ada diskusi mengenai masalah kepemiluan, kemudian ada Pak Susno, diskusi masalah penegakan hukum, macem-macem di situ. Ada beberapa banyak," katanya.
Menurut Prasetyo, Presiden Prabowo terbuka untuk berdialog atau berdiskusi dengan siapapun termasuk mereka yang sering melontarkan kritik terhadap kebijakan. Presiden selalu menerima masukan sekaligus juga menjelaskan mengenai apa yang sedang dilakukan pemerintah.
"Ini kan tokoh-tokoh masyarakat juga, ya. Bapak Presiden terbuka untuk berdialog, menerima masukan, kemudian juga beliau menjelaskan program-program yang dalam satu tahun lebih beberapa bulan ini beliau jalankan yang semua memang berorientasi untuk kepentingan rakyat, berorientasi untuk kepentingan bangsa dan negara, gitu," katanya.
Sebelumnya Di tengah suasana politik yang dinamis, Presiden Prabowo Subianto dilaporkan menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah tokoh nasional yang selama ini dikenal vokal melayangkan kritik terhadap pemerintah.
Kabar pertemuan "malam jumat" ini diungkapkan oleh Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, saat menghadiri retret bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pusat Kompetensi Bela Negara, Rumpin, Bogor, Sabtu (31/1/2026).
"Tadi malam Bapak Presiden bertemu dengan tokoh-tokoh nasional yang dalam tanda kutip adalah 'oposisi'," ungkap Sjafrie di hadapan awak media.
Baca juga: Ikrar Nusa Bhakti: Prabowo Undang Taipan untuk Tegaskan Posisinya, Jangan Lihat Jokowi Terus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Barisan-oposisi-kajs.jpg)