Rabu, 13 Mei 2026

Golkar Dorong Koalisi Permanen Dukung Prabowo-Gibran, PDIP Ambil Sikap Berbeda

Golkar usul koalisi permanen dukung Prabowo-Gibran. PDIP menegaskan koalisi sejatinya bersama rakyat.

Tayang:
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda Prasetia
SIKAP POLITIK PDIP - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari (Pinka Hapsari) dan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto tiba di Rakernas I PDIP 2026 di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Senin (12/1/2026). Hasto menegaskan PDIP menjadi penyeimbang dan menyebut koalisi permanen adalah bersama rakyat, merespons usulan Golkar mendukung pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. 

“Dinamika politik itu sangat dinamis. Bisa ada kerja sama antar partai. Tapi kalau ada partai menggagas kerja sama permanen, kami tidak mencampuri kedaulatan partai lain,” imbuh Hasto.

Baca juga: Said Didu: Prabowo Pilih Gibran Jadi Cawapres Buntut Calon Lainnya Dikriminalisasi

 

Pengamat: Koalisi Permanen Tak Lazim

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai koalisi permanen tidak lazim dalam sistem presidensial multipartai.

“Praktis tidak ditemukan koalisi permanen di negara demokrasi presidensial multipartai. Koalisi umumnya cair mengikuti hasil pemilu,” ujar Jamiluddin, Sabtu (14/2/2026).

Ia mencontohkan Jerman sebagai negara parlementer dengan kemitraan relatif stabil, namun tetap bergantung pada hasil politik elektoral.

Menurutnya, jika mayoritas partai besar berada dalam satu barisan permanen, fungsi pengawasan legislatif terhadap eksekutif berpotensi melemah.

“Koalisi permanen berpotensi memunculkan otoritarianisme terselubung,” katanya.

Konsolidasi atau Penyeimbang?

Perbedaan sikap Golkar dan PDIP mencerminkan dua pendekatan terhadap stabilitas: memperkuat konsolidasi kekuasaan melalui koalisi jangka panjang, atau menjaga jarak kritis demi kualitas demokrasi.

Dengan mayoritas parlemen berada di barisan pemerintah dan satu partai besar mengambil posisi penyeimbang, arah relasi kekuasaan ke depan akan diuji—antara soliditas politik dan efektivitas kontrol demokratis.

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved