Sabtu, 18 April 2026

Ramadan 2026

Ada Potensi Perbedaan Awal Puasa Ramadan 2026, Ketum PP Muhammadiyah Ajak Umat Muslim Bersikap Bijak

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bisa menyikapi potensi perbedaan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah dengan bijak dan kelapangan dada.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan  yang kian tinggi dan menebar  segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.

Baca juga: Hasil Sidang Isbat Ramadan 1447 H Diumumkan Pukul 19.05, BMKG Sebut Hilal Belum Tampak

Alasan Awal Ramadan 1447 H Beda

Potensi perbedaan awal puasa kembali terjadi pada Ramadan 1447 Hijriah atau Ramadan 2026 ini. 

Mengapa bisa terjadi perbedaan? Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis ungkap penyebabnya. 

"Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari ini, karena menggunakan hisab sekaligus kalender global," kata Kiai Cholil dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Sementara itu, kelompok lain menggunakan metode hisab yang dipadukan dengan imkanur rukyah (kemungkinan hilal dapat dilihat) saat matahari terbenam.

"Nah, menurut imkan rukyat, kemungkinan hilal bisa dilihat ini tak mungkin dapat diamati," ujarnya.

Kiai Cholil menjelaskan, posisi hilal diperkirakan masih berada di bawah 3 derajat. 

Padahal, berdasarkan kesepakatan MABIMS atau forum ulama Asia Tenggara yang terdiri dari Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam, hilal dinyatakan dapat terlihat jika telah berada di atas 3 derajat. Dari sinilah perbedaan terjadi. 

"Jadi bisa dipastikan awal Ramadan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," katanya. 

Baca juga: Alasan Awal Ramadan 1447 H Beda, Hilal Bakal Muncul Petang Ini? Cek Posisinya Versi BMK & Kemenag

Kemunculan Hilal, Adu Data BMKG dan Kemenag

PEMANTAUAN HILAL - Petugas mengamati matahari terbenam menggunakan teleskop saat melakukan pemantauan hilal di Masjid Al-Musari'in, Kembangan Utara, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pemantauan hilal tersebut dilakukan untuk menentukan 1 Ramadan 1447 H. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PEMANTAUAN HILAL - Petugas mengamati matahari terbenam menggunakan teleskop saat melakukan pemantauan hilal di Masjid Al-Musari'in, Kembangan Utara, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pemantauan hilal tersebut dilakukan untuk menentukan 1 Ramadan 1447 H. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Hilal adalah bulan sabit muda yang sangat tipis, muncul pertama kali di ufuk barat tepat setelah matahari terbenam (maghrib) setelah konjungsi (ijtimak) yang digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah.

Sebagai informasi, hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. 

Penentuan awal Ramadan 1447 H mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Jika hasil pengamatan memenuhi kriteria tersebut, maka 1 Ramadan dapat ditetapkan keesokan harinya.

Data BMKG 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan untuk Selasa, 17 Februari 2026, data hisab saat Matahari terbenam menunjukkan tinggi hilal masih berada di bawah ufuk, berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura, Papua hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Elongasi geosentris tercatat antara 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura. Umur bulan berkisar antara -3,07 jam hingga -0,16 jam, dengan lag minus 8,27 menit hingga minus 3,11 menit.

Baca juga: Awal Puasa Ramadan 2026 Muhammadiyah dan Pemerintah Berpotensi Beda, Menag Harap Tak Ada Konflik

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved