Ramadan 2026
Ada Potensi Perbedaan Awal Puasa Ramadan 2026, Ketum PP Muhammadiyah Ajak Umat Muslim Bersikap Bijak
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bisa menyikapi potensi perbedaan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah dengan bijak dan kelapangan dada.
Fraksi iluminasi bulan juga masih sangat kecil, antara 0,01 persen hingga 0,05 persen. Kondisi ini menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria MABIMS pada 17 Februari 2026.
Sementara itu, pada Rabu, 18 Februari 2026, tinggi hilal saat Matahari terbenam diperkirakan sudah berada di atas ufuk dengan kisaran 7,62 derajat di Merauke, Papua hingga 10,03 derajat di Sabang, Aceh.
Elongasi geosentris berkisar antara 10,7 derajat di Jayapura hingga 12,21 derajat di Banda Aceh. Umur bulan mencapai 20,92 jam hingga 23,84 jam, dengan lag antara 34,99 menit hingga 45,17 menit.
Fraksi iluminasi bulan berada pada kisaran 0,74 persen hingga 0,98 persen. Secara hisab, parameter ini telah melampaui kriteria MABIMS.
Dengan data tersebut, kemungkinan awal puasa Ramadan 2026 akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kendati demikian, BMKG menegaskan, keputusan resmi mengenai awal Ramadan 1447 H akan diumumkan pemerintah setelah melalui rangkaian sidang isbat dengan mempertimbangkan hasil hisab dan laporan rukyat di seluruh Indonesia.
Baca juga: Sidang Isbat Awal Puasa 2026 Hari Ini, Menag Imbau Warga Tetap Jaga Persatuan jika Beda 1 Ramadan
Data Hisab Kemenag
Sementara itu, berdasarkan perhitungan hisab yang dilakukan oleh Kementerian Agama, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.
Melansir laman kemenag.go.id, posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.
Data ini sesuai dengan kriteria visibilitas yang digunakan (seperti MABIMS), sehingga hilal belum memenuhi syarat terlihat secara teoritis.
Untuk melengkapi data hisab, Kemenag melaksanakan rukyatul hilal di 96 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pengamatan ini dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi dan Kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, serta instansi terkait lainnya.
Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam sidang isbat.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Anita K Wardhani)