Banjir Bandang di Sumatera
Banjir Sumatera Disebut Dipicu Cuaca Ekstrem Melampaui Standar Mitigasi Nasional
Kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai
Ringkasan Berita:
- Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) menyelesaikan kajian forensik banjir berbasis analisis presipitasi ekstrem, hidrologi tiga DAS (Badiri, Garoga, Batang Toru).
- Hasilnya, banjir dipicu hujan sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, dengan intensitas 150–300+ mm/hari, melampaui kapasitas desain sistem pengendalian banjir.
- Analisis menunjukkan kontribusi perubahan tutupan lahan oleh korporasi relatif kecil dibanding faktor cuaca.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelesaikan kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru), perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, sehingga kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa tersebut.
CENAGO menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya pendalaman berbasis data dan analisis komprehensif dalam menarik kesimpulan mengenai faktor penyebab serta pertanggungjawaban suatu bencana.
Hasil riset menunjukkan bahwa kontribusi perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS yang dianalisis relatif kecil dibandingkan dengan skala faktor cuaca ekstrem yang terjadi.
Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas, mengatakan analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan porsi alih fungsi lahan tiga korporasi terhadap luas DAS relatif kecil. PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE 0,02 persen.
“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” kata Heri, Jumat (20/2/2026).
Tidak hanya mengandalkan identifikasi dan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan, CENAGO juga menggabungkan data presipitasi BMKG dan NOAA Amerika Serikat, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi hidrolika.
Heri mengungkapkan hasil analisis CENAGO terhadap citra satelit resolusi tinggi menunjukkan banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi.
Curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).
"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," ujar Heri.
Dengan intensitas hujan yang melampaui standar mitigasi nasional itu, CENAGO menilai bencana tersebut berada pada tingkat yang secara perencanaan melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku.
Pembahasan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion bertajuk "Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan" yang digelar pada 18 Februari 2026 di Jakarta.
FGD dihadiri oleh perwakilan kementerian dan lembaga serta organisasi profesi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Foto-Udara-Kerusakan-di-Desa-Garoga-Tapanuli-Selatan_20251206_201041.jpg)