Minggu, 12 April 2026

Riset DIR: Dedi Mulyadi Jadi Gubernur Paling Banyak Engagement, Disusul Pramono dan Khofifah

Dedi Mulyadi menjadi gubernur yang paling banyak disorot di media dan diperbincangkan di media sosial. Disusul Pramono Anung dan Khofifah.

Dedi mengungguli Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung yang menempati posisi kedua.

Politikus PDIP itu berada di posisi runner up dengan 153 ribu pemberitaan online, 8,9 riu pemberitaan di media cetak, dan 8,3 ribu di media elektronik.

"Pramono Anung mencatat total engagement 959.157.202 dengan audience 5.764.849.476," kata DIR.

Baca juga: Respons Dedi Mulyadi setelah Dikritik karena Bantu Evakuasi Korban Longsor di Cisarua

Direktur DIR Neni Nur Hayati, mengatakan bahwa sosok kepala daerah dalam kepemimpinan di tahun pertamanya merupakan fase krusial.

Pasalnya, janji-janji saat kampanye tentu akan menjadi perhatian tinggi masyarakat.

"Data kami menunjukkan bahwa publik memberikan perhatian sangat tinggi dan harapan besar kepada pemimpin daerah dalam mengeksekusi janji-janji kampanye, program pusat di daerah, dan ketangkasan saat bencana melanda."

"Total berita tentang gubernur di media mainstream mencapai 1.887 juta lebih. Engagement di medsos mencapai 5,624 miliar, dengan audiens mencapai 33,798 miliar terlibat. Ini perhatian yang luar biasa dan harapan yang sangat besar dari masyarakat," bebernya.

Neni mengatakan ada tiga isu dominan yang menjadi pemberitaan dan perbincangan masyarakat di media sosial yakni terkait implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah, penanganan bencana di Sumatra, serta soal integritas dan penegakan hukum.

Namun, dia mengungkapkan pihaknya menemukan perbedaan sudut pandang antara media dengan medsos dalam memberitakan kepala daerah.

Di mana mayoritas media massa memberikan sentimen positif hingga 79 persen.

"Sebaliknya, media sosial menjadi arena apresiasi sekaligus kritik tajam. Instagram, YouTube, TikTok, dan Facebook mencatat atensi tinggi, sementara X menjadi platform paling kritis dengan engagement paling rendah dibanding platform lainnya," katanya.

Neni pun menyimpulkan, melalui hasil riset yang dilakukan, kepala daerah harus bisa membaca percakapan dan mengelola narasi yang berkembang di media maupun di media sosial.

Dia mengatakan di era saat ini, legitimasi terhadap eksistensi kepala daerah tidak hanya ditentuka melalui kebijakannya saja.

"Dedi Mulyadi tampil sebagai figur yang paling berhasil menyedot, sekaligus mengelola perhatian publik sepanjang tahun pertamanya menjabat."

"Selain itu, harmonisasi dengan legislatif adalah kunci menjaga stabilitas pemerintahan," katanya.

Baca juga: Surati Kementerian Keuangan, Dedi Mulyadi Minta Pencairan TKD Jawa Barat Rp 1 Triliun

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved