Sosok Moncer Guru Besar UGM Tantang Debat Menteri HAM, Pengukuhannya Dihadiri Wapres hingga Capres
Profesor bidang hukum tata negara ini dikenal vokal, terutama terkait isu konstitusi, KPK dan hukum tata negara lain
Pada 2022, ia ditunjuk sebagai anggota Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Sebagai penggiat antikorupsi, Zainal Arifin sering dimintai komentarnya oleh media massa.
Ia juga pernah dipercaya menjadi moderator dalam debat Capres dan Cawapres tahun 2014 lalu.
Nama Uceng sempat menjadi sorotan setelah tayangnya film Dirty Vote.
Fim Dirty Vote merupakan sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono yang membahas dugaan kecurangan pemilu melalui penggunaan instrumen kekuasaan, seperti kebijakan pemerintah dan aparat negara yang tayang pada Minggu (11/2/2024).
Dalam film tersebut, Uceng menjadi narasumber utama bersama dua pakar hukum tata negara lainnya, Bivitri Susanti dan Feri Amsari.
Riwayat organisasi:
- Anggota Tim Task Force Penyusunan UU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (2007)
- Direktur Advokasi Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT), Fakultas Hukum UGM (2008-2017)
- Anggota Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar, berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2020 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar
- Anggota Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (2022)
- Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan (2023-2026)
Menuju Debat Terbuka
Saling balas cuitan dengan Pigai mempertegas posisi Zainal sebagai figur akademik yang siap menguji argumen di ruang publik.
Pigai menyatakan kesediaan berdebat secara ilmiah dan live di TV nasional, bahkan menyebut ingin “mengajari” soal HAM.
Zainal merespons dengan menyatakan siap hadir dan membuka ruang diskusi terbuka.
Hingga kini, belum ada kepastian waktu dan stasiun televisi yang akan memfasilitasi debat tersebut.
Percakapan bermula dari pernyataan Pigai yang menekankan pengalaman hidupnya sejak kecil di wilayah konflik sebagai fondasi pemahamannya atas nilai-nilai HAM universal.
Ia menyebut dirinya tumbuh “di tengah moncong senjata” di Enarotali, Paniai, yang menurutnya menjadi ruang belajar paling otentik tentang batas hidup dan mati, adil dan tidak adil.
“Disitulah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia. Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas,” tulis Pigai dalam cuitannya pada 25 Februari 2026.
Pigai juga menegaskan integritasnya sebagai “penjaga kaum lemah (de oppresso liber)” dan menyatakan telah “mencatat, menyelami, dan menentukan sejarah HAM di Republik ini.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Zainal-Arifin-Mochtar-menantang-debat-Menteri-HAM.jpg)