Sabtu, 25 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pengamat: Jika Selat Hormuz Ditutup Picu Krisis Energi Global, RI Perlu Cermat Sikapi Dinamika BoP

Dinamika konflik di Timur Tengah kian kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mulai menunjukkan perubahan sikap

Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com/Rahmat W Nugraha
KONFLIK TIMUR TENGAH - Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menilai dinamika konflik di Timur Tengah kian kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap eskalasi yang melibatkan Israel dan Iran. 

“Artinya, Iran bukan hanya menghadapi tekanan eksternal dari AS dan Israel, tetapi juga tekanan internal yang melemahkan posisi politiknya,” jelasnya.

Pro-Kontra Keterlibatan Indonesia di BoP

Terkait bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP), Nuning menilai langkah tersebut memiliki sisi positif dan risiko.

Dalam konteks perubahan tata kelola global dan upaya perdamaian konflik berkepanjangan, terutama di Timur Tengah, ia menilai peran kekuatan besar selama ini lebih dominan dibanding institusi internasional. 

Karena itu, BoP oleh negara anggotanya dipandang sebagai upaya membentuk kekuatan baru yang lebih berpengaruh.

“Jika dilihat dari sisi positif, Presiden Prabowo bisa mendapatkan informasi lebih cepat terkait rencana Amerika dan sekutunya. Bahkan bisa memberikan masukan yang turut membantu Palestina agar tidak terus-menerus diserang Israel,” katanya.

Baca juga: IRGC Tembakkan Rudal Pertahanan Udara Sayyad-3G ke Selat Hormuz

Namun, ia mengingatkan adanya risiko reputasional bagi Indonesia. “Jika BoP mengambil kebijakan yang tidak efektif atau menimbulkan residu negatif, Indonesia dapat dianggap melegitimasi kebijakan tersebut karena menjadi bagian dari mekanisme itu,” pungkasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved