Iran Vs Amerika Memanas
Pengamat: Jika Selat Hormuz Ditutup Picu Krisis Energi Global, RI Perlu Cermat Sikapi Dinamika BoP
Dinamika konflik di Timur Tengah kian kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mulai menunjukkan perubahan sikap
Ringkasan Berita:
- Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menilai dinamika konflik di Timur Tengah kian kompleks
- Menurut Susaningtyas, Trump selama ini dikenal sebagai figur dengan kecenderungan isolasionis dan tidak suka terlibat langsung dalam perang
- Kekhawatiran terbesar dunia saat ini adalah kemungkinan ditutupnya Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menilai dinamika konflik di Timur Tengah kian kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap eskalasi yang melibatkan Israel dan Iran.
Menurut Susaningtyas, Trump selama ini dikenal sebagai figur dengan kecenderungan isolasionis dan tidak suka terlibat langsung dalam perang. Namun, dalam situasi terkini, ia terlihat terprovokasi oleh langkah Israel yang menyerang Iran.
“Perubahan sikap ini tentu meningkatkan tensi kawasan dan membuka potensi konflik yang lebih luas,” kata Susaningtyas melalui pesan singkat, Minggu (1/3/2026).
Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Wanita yang akrab disapa Nuning itu mengingatkan bahwa kekhawatiran terbesar dunia saat ini adalah kemungkinan ditutupnya Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit dan sangat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Letaknya berada di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.
Selat ini dikenal sebagai salah satu chokepoint energi terpenting di dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk ke pasar global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati perairan ini setiap hari.
Korps Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah dikerahkan untuk menutup selat tersebut di tengah memanasnya situasi. Langkah ini dinilai sebagai respons strategis Iran terhadap tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), lebih dari 20 persen konsumsi minyak harian dunia—sekitar 18 hingga 20 juta barel per hari—melewati Selat Hormuz.
Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi dan Iran mengekspor sebagian besar minyak mentah melalui jalur ini. Selain itu, ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar juga bergantung pada rute tersebut.
“Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya akan sangat signifikan terhadap pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia,” kata Nuning.
Mantan Anggota Komisi I DPR itu menambahkan, negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada energi yang melewati jalur tersebut. Karena itu, dampak ekonomi global sangat dikhawatirkan.
Tekanan Politik Dalam Negeri Iran
Di sisi lain, Nuning menyoroti kondisi internal Iran yang tengah menghadapi tekanan politik domestik.
Rangkaian protes yang dimulai pada 28 Desember 2025 akibat persoalan ekonomi telah berkembang menjadi seruan untuk mengakhiri kekuasaan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pemerintah Iran menyebut demonstrasi tersebut sebagai kerusuhan yang didukung oleh musuh-musuh negara. Namun, menurut Susaningtyas, situasi ini menunjukkan bahwa pemerintahan Iran juga sedang menghadapi tantangan terhadap legitimasi dan determinasi kekuasaannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/susaningtyas-kertopati-perindo.jpg)