Sabtu, 11 April 2026

Pengamat Sebut Eksodus Elite Politik Bukti Loyalitas ke Partai Kian Kendur

Fenomena eksodus politisi senior jadi sorotan. Pengamat sebut loyalitas politik kian lentur demi peluang elektoral Pemilu 2029. Cek!

Rahmat Fajar Nugraha/Tribunnews.com
PERPINDAHAN ELITE PARPOL – Deretan bendera partai politik yang menghiasi ruang publik sebagai simbol dinamika kompetisi elektoral. Pengamat Pieter C. Zulkifli menilai eksodus tokoh senior membuktikan realisme kekuasaan kini lebih dominan dibandingkan loyalitas ideologis. 

Pengamat Sebut Eksodus Elite Politik Bukti Loyalitas ke Partai Kian Kendur
Ringkasan Berita:

Ringkasan Berita:
  • Pergeseran Loyalitas: Fenomena politisi senior pindah partai dinilai sebagai bentuk realisme politik. 
  • Kalkulasi Elektoral: Strategi 'Kandang Gajah' PSI disebut sebagai langkah hadapi Pemilu 2029
  • Ujian Identitas: Masuknya tokoh lama menjadi tantangan bagi citra partai anak muda.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gelombang perpindahan sejumlah politisi senior ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai sebagai indikator pergeseran loyalitas politik menjelang Pemilu 2029.

Fenomena ini dipandang bukan sekadar manuver biasa, melainkan cerminan dari kalkulasi politik yang lebih mengedepankan peluang elektoral.

Pengamat hukum dan politik Pieter C. Zulkifli menilai migrasi para tokoh mapan ini memperlihatkan bagaimana realisme kekuasaan bekerja lebih dominan dibandingkan aspek ideologis.

"Eksodus politisi senior ke PSI menandai babak baru realisme kekuasaan, ujian bagi 'Kandang Gajah' antara strategi elektoral dan integritas," ujar Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).

Realisme Kekuasaan vs Romantisme Ideologi

Tercatat sejumlah nama seperti Ahmad Ali, Bestari Barus, Rusdi Masse Mappasessu, hingga Nina Agustina, kini memilih bergabung dengan PSI.

Pieter menganalisis bahwa faktor figur mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi magnet utama, atau yang kerap disebut sebagai 'Jokowi Effect' pasca-kepresidenan.

Menurut mantan Ketua Komisi III DPR RI ini, dalam sejarah politik Indonesia, figur mantan presiden sering kali menjadi pusat loyalitas baru.

Namun, ia mengingatkan agar fenomena ini tidak dilihat secara tunggal. Ada dimensi lain seperti kejenuhan struktural di organisasi lama hingga ambisi personal mencari kendaraan politik yang dianggap lebih prospektif.

"Politik adalah arena kepentingan yang bergerak; kesetiaan sering kali tunduk pada peluang," tuturnya mengutip pepatah klasik.

Baca juga: Jokowi Mania Tantang Ketum Parpol: Jangan Berebut Wapres, Maju Capres 2029

Paradoks 'Darah Lama' di Partai Muda

Bergabungnya para politisi kawakan ini memicu paradoks bagi PSI yang selama ini dicitrakan sebagai partai alternatif anak muda.

Di satu sisi, kehadiran tokoh senior memperkuat infrastruktur dan legitimasi partai. Namun di sisi lain, hal ini berisiko mengikis identitas awal PSI sebagai partai anti-oligarki.

Pieter menekankan pentingnya penerapan prinsip good party governance agar struktur partai yang semakin besar tidak menjadi rapuh. Ia mengingatkan potensi munculnya faksi-faksi internal jika tidak dikelola dengan manajemen organisasi yang profesional.

"Partai membutuhkan manajemen modern, tata kelola transparan, dan sistem kaderisasi yang meritokratis. Masuknya politisi kawakan justru harus menjadi momentum profesionalisasi partai," jelasnya.

Ujian Tata Kelola dan Antikorupsi

Kini, kepemimpinan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum diuji untuk membuktikan bahwa PSI mampu berdiri sebagai institusi yang akuntabel secara mandiri.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved