Jumat, 17 April 2026

Sosok KH Nurul Huda Djazuli yang Tangannya Dicium Presiden Prabowo, Ayah dari Gus Kautsar

Prabowo Subianto mengundang tokoh ulama ke Istana Merdeka dan mencium tangan KH Nurul Huda Djazuli saat silaturahmi.

Penulis: Endra Kurniawan
Editor: Sri Juliati
Kolase Tribunnews: Kanal YouTube Prabowo Subianto dan Dok. Pondok Al Falah Ploso
PERTEMUAN ULAMA - (Kiri) Presiden Prabowo Subianto mencium tangan Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, saat mengumpulkan ulama di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam dan (Kanan) Foto KH Nurul yang diambil dari website Pondok Al Falah Ploso. 

Dikutip dari website resmi Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri, KH Nurul merupakan putra dari pasangan KH. Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj. Rodliyah Djazuli.

Pasangan KH. Djazuli dengan Ibu Nyai Rodliyah dikaruniai 8 anak putra dan 3 anak putri.

KH Nurul adalah anak keempat.

Berikut urutan lengkapnya:

  • Siti Azizah (meninggal diusia 1 tahun)
  • Hadziq (meninggal di usia 9 bulan)
  • KH. A. Zainuddin Djazuli
  • KH. Nurul Huda Djazuli
  • KH. Hamim Djazuli (Alm. Gus Miek)
  • KH. Fuad Mun’im Djazuli
  • Mahfudz (meninggal di usia 3 tahun)
  • Makmun (meninggal di usia 7 bulan)
  • KH. Munif Djazuli (Alm)
  • Ibu Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli
  • Su’ad (meninggal diusia 4 bulan)

Kembali ke KH Nurul, tidak banyak informasi yang bisa diakses, mengenai kiprah beliau.

Akan tetapi, diketahui KH Nurul menikah dan dikaruniai beberapa anak, salah satunya adalah KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar, yang akrab disapa Gus Kautsar, dikutip dari Surya.co.id.

Gus Kautsar saat ini juga aktif dalam kegiatan keagamaan.

Baca juga: FPI Desak RI Keluar BoP: Kita Percaya Itikad Baik Presiden Prabowo Tapi Kita Tidak Percaya Amerika

Sejarah Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri

Ponpes Al-Falah Ploso Mojo didirikan oleh KH. Djazuli, yang lahir 16 Mei 1900 dan fawat pada 10 januari 1976.

Sementara embrio berdirinya ponpes bermula saat Muhammad Qomar, kakak ipar KH Djazuli mulai mengajar mengaji, pada pertengahan tahun 1924.

Kala itu para santri berasal dari anak-anak desa sekitar Ploso, Kediri.

Jumlah murid pertama yang ikut mengaji kurang lebih 12 orang. 

Perkembangan pesat terjadi pada tanggal 1 Januari 1925.

KH Djazuli mengajukan surat permohonan pemantauan kepada pemerintah Belanda untuk lembaga baru yang kemudian dikenal dengan nama Al Falah. 

Proses belajar mengajar masih digelar di serambi masjid karena belum memiliki gedung sendiri.

Pelan tapi pasti, Ponpes Al-Falah semakin berkembang pesat dengan mengusung visi mencetak para santri sebagai kader ahlus sunnah wal jama’ah yang teguh dalam prinsip ilmiyah-amaliyah dan amaliyah-ilmiyah. 

Baca juga: Pengamat Timteng: Prabowo Harusnya Kutuk Serangan AS ke Iran, Keluar dari BoP, Bukan Jadi Mediator

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved