Sosok KH Nurul Huda Djazuli yang Tangannya Dicium Presiden Prabowo, Ayah dari Gus Kautsar
Prabowo Subianto mengundang tokoh ulama ke Istana Merdeka dan mencium tangan KH Nurul Huda Djazuli saat silaturahmi.
Ringkasan Berita:
- Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh agama dan pimpinan organisasi Islam untuk bersilaturahmi di Istana Merdeka pada 5 Maret 2026 guna membahas kondisi bangsa dan dinamika dunia.
- Dalam acara tersebut terjadi momen ketika Prabowo membungkuk dan mencium tangan KH Nurul Huda Djazuli sebagai bentuk penghormatan kepada ulama.
- KH Nurul Huda Djazuli diketahui merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri yang didirikan oleh KH Ahmad Djazuli Utsman.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Prabowo Subianto menggundang sejumlah tokoh agama, kiai, pimpinan organisasi kemasyarakatan islam untuk bersilaturahmi di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (5/3/2026) malam.
Dipantau dari siaran YouTube Prabowo Subianto, saat memasuki ruangan, orang nomor satu di Indonesia itu tampak menyalami satu per satu tamu undangan.
Hadir dalam kesempatan tersebut seperti Ketua Presidium ICMI Ilham Akbar Habibie, pendakwah Muhammad Subki Al-Bughury, pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman Miftah Maulana Habiburrohman (Gus Miftah).
Kemudian ada Ketua Dewan Pembina Majelis Rosulullah Pusat, Nabil bin Fuad Al Musawa, hingga Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie.
Saat naik ke panggung, Prabowo disambut oleh sejumlah pengasuh pondok pesantren.
Seperti KH Hasan Abdullah Sahal dari Pondok Modern Darussalam Gontor dan KH Kafabihi Ali Mahrus dari Ponpes Lirboyo Kediri.
Kejadian menarik terjadi saat Prabowo menuju kursi Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri, KH Nurul Huda Djazuli.
Baca juga: Muzani Ungkap Isi Pertemuan Prabowo dengan Tokoh dan Pimpinan Ormas Islam
Ketua Umum Partai Gerindra itu langsung membungkuk dan meraih tangan KH Nurul untuk dicium.
KH Nurul berusaha mencium balik tangan Prabowo.
Namun, Presiden Indonesia ke-8 itu menarik tangannya.
Tidak lama kemudian Prabowo memberikan sambutannya.
Ia mengatakan pertemuan tersebut penting untuk membahas perkembangan Tanah Air dan kondisi dunia.
"Bapak-bapak, Bapak-bapak, Ibu-ibu sebagai mubaligh, sebagai kiai, sebagai ustaz. Karena saya memandang keadaan bangsa dan negara memerlukan pertemuan kita antara umara dan ulama. sehingga kondisi bangsa terkini di tengah perkembangan dunia penuh dinamika dan perubahan," katanya, dikutip Jumat (6/3/2026).
Prabowo lalu mengajak agar kondisi tersebut dihadapi dengan tenang dan tetap waspada.
"Perubahan dapat kita hadapi dengan ketenangan, dengan kewaspadaan, dengan ketepatan," tegasnya.
Siapa KH Nurul Huda Djazuli?
Dikutip dari website resmi Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri, KH Nurul merupakan putra dari pasangan KH. Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj. Rodliyah Djazuli.
Pasangan KH. Djazuli dengan Ibu Nyai Rodliyah dikaruniai 8 anak putra dan 3 anak putri.
KH Nurul adalah anak keempat.
Berikut urutan lengkapnya:
- Siti Azizah (meninggal diusia 1 tahun)
- Hadziq (meninggal di usia 9 bulan)
- KH. A. Zainuddin Djazuli
- KH. Nurul Huda Djazuli
- KH. Hamim Djazuli (Alm. Gus Miek)
- KH. Fuad Mun’im Djazuli
- Mahfudz (meninggal di usia 3 tahun)
- Makmun (meninggal di usia 7 bulan)
- KH. Munif Djazuli (Alm)
- Ibu Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli
- Su’ad (meninggal diusia 4 bulan)
Kembali ke KH Nurul, tidak banyak informasi yang bisa diakses, mengenai kiprah beliau.
Akan tetapi, diketahui KH Nurul menikah dan dikaruniai beberapa anak, salah satunya adalah KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar, yang akrab disapa Gus Kautsar, dikutip dari Surya.co.id.
Gus Kautsar saat ini juga aktif dalam kegiatan keagamaan.
Baca juga: FPI Desak RI Keluar BoP: Kita Percaya Itikad Baik Presiden Prabowo Tapi Kita Tidak Percaya Amerika
Sejarah Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kediri
Ponpes Al-Falah Ploso Mojo didirikan oleh KH. Djazuli, yang lahir 16 Mei 1900 dan fawat pada 10 januari 1976.
Sementara embrio berdirinya ponpes bermula saat Muhammad Qomar, kakak ipar KH Djazuli mulai mengajar mengaji, pada pertengahan tahun 1924.
Kala itu para santri berasal dari anak-anak desa sekitar Ploso, Kediri.
Jumlah murid pertama yang ikut mengaji kurang lebih 12 orang.
Perkembangan pesat terjadi pada tanggal 1 Januari 1925.
KH Djazuli mengajukan surat permohonan pemantauan kepada pemerintah Belanda untuk lembaga baru yang kemudian dikenal dengan nama Al Falah.
Proses belajar mengajar masih digelar di serambi masjid karena belum memiliki gedung sendiri.
Pelan tapi pasti, Ponpes Al-Falah semakin berkembang pesat dengan mengusung visi mencetak para santri sebagai kader ahlus sunnah wal jama’ah yang teguh dalam prinsip ilmiyah-amaliyah dan amaliyah-ilmiyah.
Baca juga: Pengamat Timteng: Prabowo Harusnya Kutuk Serangan AS ke Iran, Keluar dari BoP, Bukan Jadi Mediator
Sementara misinya:
- Mengembangkan pesantren secara keilmuan dan kelembagaan serta melakukan pencerahan kepada masyarakat melalui kegiatan ta’lim, tarbiyah dan ta’dib
- Meningkatkan kompetensi lulusan pondok pesantren melalui pembekalan moral, skill dan penguatan di bidang ilmiyah-amaliyah dan amaliyah-ilmiyah.
Kini, Ponpes Al-Falah sudah memiliki 10 cabang.
Sementara tonggak kepemimpinannya kini diamanahkan ke KH. Nurul Huda Djazuli, sebagai Ketua Dewan Pengasuh.
(Tribunnews.com/Endra)(Surya.co.id/Pipit Maulidiya)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sosok-KH-Nurul-Huda-Djazuli-yang-Tangannya-Dicium-Presiden-Prabowo-Ayah-dari-Gus-Kautsar.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.