Ramadan 2026
Bubur Samin: Warisan Rasa dan Tradisi Ramadan di Masjid Darussalam Jayengan Solo
Pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan Solo menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi yang bertahan selama puluhan tahun.
Pihak takmir mengaku tantangan terberat adalah keterbatasan tenaga dan waktu masak yang mencapai 3 hingga 4 jam, sehingga produksi belum bisa ditambah meski sering kali porsi yang disediakan habis sebelum semua pengantre terlayani.
"Tantangan kita itu cuma satu, Mas. Kalau dibagi habis, masih ada yang minta itu, Mas. Iya, bener. Itu itu cuma cuma di situ kita kita juga agak bersedih juga. Kadang-kadang kita bagi sudah kita bagi semaksimal se-minim mungkin nggih, kita bagi sudah kita tata rapi sekali ternyata masih kurang. Ya berarti kan yang minta lebih banyak daripada persediaan," ujarnya.
Warisan Budaya Tak Benda
Kini, Bubur Samin bukan lagi sekadar menu buka puasa, melainkan identitas bagi wilayah Jayengan.
Tradisi ini telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda melalui piagam yang ditandatangani oleh Menparekraf Sandiaga Uno.
"Sudah, sudah ada apa namanya piagamnya juga dari yang ditandatangani oleh Pak Sandiaga Uno kemarin itu. Dan saya harapkan juga nanti mungkin pemerintah pusat itu kalau bisa juga mendanai ini juga, ikut mendanai ini juga. Jadi kita tidak bingung, ya, Mas, untuk urusan dananya seperti apa, nggih," harap Mayasin.
Lebih lanjut pengusus berharap tradisi ini terus lestari dan mendapat dukungan lebih luas agar generasi mendatang tetap bisa merasakan kehangatan semangkuk Bubur Samin di setiap Ramadan.
"Harapannya tentu nanti kan begini, bubur ini tetap ada sampai kapan pun juga. Mungkin setelah saya juga tidak ada nanti ada generasi yang meneruskan juga," ucap Mayasin.
Antusias Warga Solo Penikmat Bubur Samin
Rizal, warga Pasar Kliwon Solo mengaku dua hari berturut turut datang ke Masjid Darussalam Jayengan untuk menikmati Bubur Samin yang dibagikan.
Warga Solo yang rumahnya sekitar 2,3 km dari wilayah Masjid tersebut awalnya mengaku penasaran dengan keramaian antrian masyarakat untuk mengambil bubur.
"Saya awalnya penasaran udah lihat di TV bagaimana suasana keramaiannya, penyajiannya seperti apa. Udah dua hari saya antri di masjid untuk mengambil bubur," ungkap Rizal.
"Buburnya rasanya enak, memang beda dari yang dijual-jual, bumbunya khas," imbuhnya.
Menurutnya, suasana di masjid menggambarkan bahwa umat Islam bersatu dan rukun.
"Meriah ya untuk suasana Ramadan di sini, umat Islam bersatu," tukasnya.
(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tradisi-penyajian-Bubur-Samin-setiap-bulan-Ramadan-di-Masjid-Darussalam-Jayengan-Surakarta.jpg)