Jumat, 10 April 2026

Ramadan 2026

Bubur Samin: Warisan Rasa dan Tradisi Ramadan di Masjid Darussalam Jayengan Solo

Pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan Solo menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi yang bertahan selama puluhan tahun.

|
Editor: Nuryanti
Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka
TRADISI MASJID DARUSSALAM - Tradisi penyajian Bubur Samin setiap bulan Ramadan di Masjid Darussalam Jayengan Surakarta diambil Minggu (1/3/2026). Pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan Solo menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi yang bertahan selama puluhan tahun. 

Ringkasan Berita:
  • Pembuatan dan pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi khas yang telah bertahan selama puluhan tahun.
  • Munculnya Bubur Samin di Jayengan berawal dari inisiatif para perantau asal Kalimantan yang telah menetap di Jawa, khususnya di wilayah Surakarta.
  • Keistimewaan Bubur Samin terletak pada penggunaan bumbu rempah-rempah khusus dan minyak samin yang berasal dari Kambing.

TRIBUNNEWS.COM - Ramadan adalah bulan yang penuh keistimewaan dalam kalender Islam (Hijriah), dimana banyak keutamaan dan kebaikan di dalamnya.

Setiap bulan Ramadan, masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam tradisi untuk menyambutnya.

Tradisi masyarakat di bulan Ramadan, seringkali berakar dari masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga untuk melakukan aktivitas sosial.

Sejumlah masjid di Indonesia memiliki tradisi khas yang hanya ada di saat bulan Ramadan, salah satunya ada di Masjid Jayengan, Serengan, Surakarta, Jawa Tengah.

Ramadan di Kota Surakarta (Solo) selalu memiliki magnet tersendiri, salah satunya terpancar dari kesibukan di Masjid Darussalam, Jayengan

Masjid Darussalam Jayengan menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi khas yang telah bertahan selama puluhan tahun, yaitu pembuatan dan pembagian Bubur Samin

Kudapan khas Kalimantan ini bukan sekadar takjil biasa, melainkan ikon kultural yang mempertemukan sejarah perantau Banjar dengan keramahan warga lokal Solo

Bahkan, tradisi pembagian secara massal ini disebut-sebut sebagai satu-satunya di Indonesia yang dilakukan secara konsisten selama satu bulan penuh di sebuah masjid.

Jejak Sejarah dan Tradisi Pembuatan Bubur Samin

Munculnya Bubur Samin di Jayengan berawal dari inisiatif para perantau asal Kalimantan yang telah menetap di Jawa, khususnya di wilayah Surakarta.

"Ini satu-satunya pembuatan Bubur Samin di bulan Ramadan selama satu bulan penuh mungkin di seluruh Indonesia, cuma ada di Solo," kata Wakil Ketua Takmir sekaligus ketua penanggung jawab pembagian bubur Samin Masjid Darussalam Jayengan, Muhammad Mayasin saat ditemui Minggu (1/3/2026).

lihat fotoMASJID DARUSSALAM JAYENGAN - Wakil Ketua Takmir Masjid Darussalam Jayengan, Muhammad Mayasin saat ditemui Minggu (1/3/2026).
MASJID DARUSSALAM JAYENGAN - Wakil Ketua Takmir Masjid Darussalam Jayengan, Muhammad Mayasin saat ditemui Minggu (1/3/2026).

Baca juga: Sejarah dan Tradisi Masjid Darussalam Jayengan Surakarta: Jejak Komunitas Banjar di Tanah Jawa

Awalnya, menu yang disajikan sangat beragam, namun seiring berjalannya waktu, Bubur Samin menjadi pilihan utama karena rasanya yang nikmat dan efeknya yang menghangatkan serta menyegarkan tubuh setelah seharian berpuasa.

"Jadi waktu itu kan para pendatang itu kan sudah ada yang berhasil, sudah ada juga yang belum. Nah, bagi yang sudah berhasil ini, itu kan menyuruh para istrinya untuk membuat makanan khas Kalimantan yang kemudian untuk diberikan atau dipakai untuk berbuka bersama di masjid di kalangan Kalimantan sendiri, dengan warga sekitar masjid." 

"Karena mereka itu memang seperti ajaran Rasulullah ya, manusia yang memberikan makan di saat berbuka puasa bagi orang berpuasa itu kan pahalanya berlipat ganda. Maka itu mereka berlomba-lomba. Akhirnya pada waktu itu banyak sih makanan-makanan khas Kalimantan ditampilkan, banyak sekali," terang Mayasin.

"Seiring berjalannya waktu dirasa loh kok ini kok cocok, dimakan kok enak di perut begitu, nanti habis makan terus kemudian badannya fresh. Akhirnya pada berapa tahun kemudian dibuat Bubur Samin itu. Tapi belum secara umum ya, belum secara massal. Dulu cuma dibagikan untuk takjil di masjid, dibagikan sama untuk warga sekitar masjid saja," sambungnya.

Peralihan dari konsumsi internal menjadi pembagian massal terjadi sekitar tahun 1980 hingga 1985. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved