Program Makan Bergizi Gratis
Peneliti UI: Sekolah Perlu Dilibatkan dalam Perencanaan Program MBG
Peran MBG tidak hanya terbatas pada pemenuhan gizi siswa. Program ini juga dinilai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Peneliti UI: Sekolah Perlu Dilibatkan dalam Perencanaan Program MBG
Ringkasan Berita:
- Peneliti dari Universitas Indonesia menilai sekolah perlu dilibatkan sebagai aktor utama dalam perencanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar pelaksanaannya lebih efektif.
- Riset juga menunjukkan program ini membantu pemenuhan gizi siswa dan meringankan beban ekonomi keluarga.
- Meski demikian, koordinasi lintas sektor dan pengawasan mutu tetap diperlukan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sejumlah riset terbaru terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan bahwa program ini memberikan berbagai dampak positif bagi siswa maupun keluarga penerima manfaat.
Temuan tersebut antara lain berasal dari penelitian Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) yang dirilis pada Maret 2026, serta kajian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang dipublikasikan pada Februari 2026.
Penelitian tersebut memotret bahwa peran MBG tidak hanya terbatas pada pemenuhan gizi siswa. Program ini juga dinilai membantu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan kesehatan anak.
Meski demikian, peneliti Universitas Indonesia menilai sekolah perlu dilibatkan sebagai aktor utama dalam perencanaan program MBG agar implementasinya lebih efektif di lapangan.
Baca juga: Kepala SPPG Lampung Timur Dipecat Kasus Pencabulan Anak, BGN Tegaskan Program MBG Tak Terganggu
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, mengatakan selama ini sekolah kerap hanya berperan sebagai pelaksana program. Padahal, pihak sekolah memiliki pemahaman paling dekat terhadap kebutuhan siswa, kondisi fasilitas, serta dinamika kegiatan belajar sehari-hari.
Menurutnya, pelibatan sekolah sejak tahap perencanaan akan membantu menyesuaikan pelaksanaan program dengan kondisi nyata di setiap daerah. Dengan demikian, distribusi makanan, pengelolaan dapur, hingga pengawasan gizi dapat berjalan lebih optimal.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif dalam pelaksanaan program MBG. Sekolah, pemerintah daerah, serta instansi terkait perlu bekerja sama untuk memastikan kualitas makanan dan kelancaran program.
Hari menambahkan bahwa keterlibatan aktif dinas kesehatan juga diperlukan untuk melakukan supervisi dan pengawasan standar mutu dapur secara berkala, sehingga aspek keamanan pangan dan kualitas gizi tetap terjaga.
“Kami merekomendasikan pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif untuk menjalankan program MBG. Salah satu langkah kuncinya adalah menempatkan sekolah sebagai subjek utama sejak tahap perencanaan. Keterlibatan aktif Dinas Kesehatan juga diperlukan untuk melakukan supervisi dan pengawasan standar mutu dapur secara berkala,” ujar Hari.
Temuan Penting
Selain menyoroti aspek implementasi, riset LabSosio UI juga menemukan tingginya tingkat penerimaan masyarakat terhadap program MBG.
“Salah satu temuan paling menggembirakan dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang kami temui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini,” jelas Hari.
Menurut hasil riset tersebut, kehadiran MBG dinilai sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus menghemat uang jajan anak. Bagi orang tua yang bekerja sejak pagi hari, program ini menjadi solusi praktis untuk memastikan anak tetap mendapatkan makanan bergizi di sekolah.
Penelitian juga mencatat bahwa hampir separuh murid, yakni sekitar 48,5 persen siswa, mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan adanya MBG, sebanyak 85,8 persen siswa tercatat selalu menghabiskan makanan yang disajikan.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil kajian RISED yang menunjukkan bahwa program MBG turut berdampak pada pengeluaran rumah tangga serta pola makan anak.
Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menyebut dukungan masyarakat terhadap program ini cukup kuat, terutama dari keluarga rentan.
“Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ujar Fajar.
Kajian RISED juga menemukan adanya perubahan pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.
Dampak program ini juga dirasakan langsung oleh sejumlah orang tua siswa. Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, mengaku melihat perubahan pada anaknya, Antonio Adrian Stefanus, siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II.
Menurut Adriana, sejak menerima program MBG, anaknya menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam belajar.
“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisiknya juga terlihat lebih segar dan berenergi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, program MBG dinilai telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung kesehatan dan proses belajar siswa. Dengan penyempurnaan berkelanjutan serta sinergi lintas sektor, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Distribusi-MBG-Selama-Bulan-Ramadan_20260224_170702.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.