Ketangguhan Para PMI Perempuan Bangkit Lewat Pendidikan Berkelanjutan
Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 jadi momentum penting merefleksikan kembali perjuangan dan ketangguhan para PMI perempuan.
Ringkasan Berita:
- Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali perjuangan dan ketangguhan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) perempuan.
- Di balik sebutan sebagai pahlawan devisa, para buruh migran kerap dihadapkan pada kerentanan ekonomi dan sosial.
- Namun, dengan akses pendidikan berkelanjutan dan dukungan komunitas, para perempuan ini terbukti mampu bangkit, berdaya, dan merencanakan masa depan yang lebih mapan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali perjuangan dan ketangguhan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) perempuan.
Di balik sebutan sebagai pahlawan devisa, para buruh migran kerap dihadapkan pada kerentanan ekonomi dan sosial.
Namun, dengan akses pendidikan berkelanjutan dan dukungan komunitas, para perempuan ini terbukti mampu bangkit, berdaya, dan merencanakan masa depan yang lebih mapan.
Fakta tersebut terungkap dari kisah tiga perempuan pekerja migran yang membagikan pengalaman inspiratifnya baru-baru ini.
Ketiganya berhasil bangkit dari keterpurukan melalui program peningkatan kapasitas diri, seperti literasi keuangan dan pembelajaran sebaya (peer learning), yang difasilitasi oleh komunitas pendamping pekerja migran, Aidha.
Kisah ketangguhan ini salah satunya datang dari Fitria Hendrawati. Ia terpaksa mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga saat sang ayah jatuh sakit.
Dengan keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris kala itu, Fitria tetap nekat mengadu nasib ke luar negeri demi memulihkan ekonomi keluarganya.
Melalui proses belajar yang panjang bersama komunitasnya, ia kini tak hanya mahir berbahasa asing, tetapi juga memiliki kemampuan manajemen keuangan.
“Tidak ada hasil yang instan, semuanya membutuhkan waktu dan proses,” ucap Fitria, Senin (9/3/2026).
Kini, ia aktif menjadi mentor untuk memotivasi rekan sesama buruh migran agar lebih percaya diri.
Baca juga: Pekerja Migran Asal Serang Banten Diisolasi 4 Bulan di Saudi Karena Pendarahan, Begini Nasibnya
Kisah kegigihan lainnya datang dari Siti Mujiati, seorang ibu tunggal dengan dua anak. Tekanan ekonomi pasca-berhenti dari pekerjaan di pabrik memaksanya mencari peluang ke mancanegara.
Berbekal kedisiplinan dan literasi keuangan yang ia pelajari selama bekerja di luar negeri, Siti sukses meraih gelar sarjana, membangun dana darurat, hingga menyokong putrinya mendapatkan peluang kerja.
“Dengan keberanian dan pendidikan, saya bisa bangkit dan mengubah bukan hanya hidup saya, tetapi juga masa depan anak-anak saya,” tutur Siti.
Sementara itu, pekerja migran lainnya, Nur Bayani, membagikan pengalaman pahitnya saat seluruh tabungan hasil jerih payahnya ludes akibat penipuan.
Alih-alih menyerah, Nur memilih bangkit dengan membekali diri melalui pendidikan vokasi.
“Sekarang kemampuan bahasa Inggris saya lebih baik, jadi saya merasa lebih percaya diri, dan saya juga belajar keterampilan bisnis,” ungkap Nur.
Baca juga: 50 Ucapan Hari Perempuan Internasional 2026, Cocok Jadi Caption Sosmed
Kegagalan tersebut kini ia jadikan pelajaran berharga untuk dibagikan kepada rekan-rekannya sesama PMI.
Kisah ketiga perempuan ini menjadi pengingat bahwa momentum Hari Perempuan Internasional 2026 tidak sekadar perayaan seremonial.
Lebih dari itu, peringatan ini menekankan pentingnya perluasan akses edukasi, ruang aman untuk bercerita, dan literasi finansial agar para pekerja migran perempuan memiliki ketahanan hidup jangka panjang saat kembali ke Tanah Air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peringatan-Hari-Perempuan-Internasional-2026.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.