Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Kala Usulan Menteri PPPA soal Gerbong Perempuan Pindah Tengah Ditolak Pejabat Lain
Usulan Menteri PPPA memindahkan gerbong perempuan ke tengah rangkaian ditolak oleh sejumlah pejabat seperti Dirut KAI dan Menteri Perhubungan.
Ringkasan Berita:
- Usulan Menteri PPPA, Arifah Fauzi, agar memindahkan gerbong perempuan ke tengah rangkaian KRL pasca insiden di Stasiun Bekasi Timur ditolak oleh sejumlah pejabat.
- Menko AHY menegaskan keselamatan penumpang kereta api tidak memandang gender baik laki-laki dan perempuan.
- Penolakan juga disampaikan oleh Dirut KAI, Bobby Rasyidin, yang senada dengan pernyataan AHY bahwa keselamatan seluruh penumpang tanpa memandang gender harus menjadi prioritas.
- Penolakan juga disampaikan Menhub Dudy Purwagandhi.
TRIBUNNEWS.COM - Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi atau Arifah Fauzi, terkait dipindahnya gerbong khusus perempuan ke tengah ditolak oleh sejumlah pejabat lain.
Diketahui, usulan tersebut disampaikan Arifah setelah terjadinya insiden kecelakaan ketika Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line lintasan Jakarta-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam.
Hingga Rabu (29/4/2026), dilaporkan total korban jiwa sebanyak 16 orang dan seluruhnya adalah perempuan.
"Tadi kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu (gerbong) ditaruh di tengah," kata Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (284/2026).
"Jadi yang (gerbong) laki-laki di ujung, yang iya, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu. Tadi sementara itu," sambungnya.
Baca juga: Polda Metro Update Korban Kecelakaan KA Argo Bromo Vs KRL: 16 Tewas, 46 Orang Masih Dirawat
Beberapa pejabat publik termasuk menteri pun menolak usulan dari Arifah tersebut.
AHY Sebut Keselamatan Tak Pandang Gender
Sosok yang pertama kali menolaknya yakni Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dia mengatakan bahwa perbaikan sistem perkeretaapian harus berfokus pada keselamatan seluruh penumpang dan tanpa memandang gender.
AHY menegaskan nyawa laki-laki maupun perempuan adalah sama-sama harus dijaga.
"Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apapun."
"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamaat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon," kata AHY setelah mengunjuk korban di RSUD Bekasi, Selasa.
Baca juga: KRL Lintasan Bekasi-Cikarang Dibuka Kembali Siang Ini, Menhub Dudy Jajal Kereta Pertama
Dirut KAI juga Tolak Usulan Arifah
Senada dengan AHY, Direktur Utama (Dirut) PT KAI, Bobby Rasyidin, juga menolak usulan dari Arifah tersebbut.
Dia menegaskan keselamatan penumpang tidak dibedakan berdasarkan gender. Bobby mengatakan keselamatan seluruh penumpang adalah prioritas KAI.
"Kami tidak membedakan gender laki-laki dan perempuan. Bagi kami, PT Kereta Api Indonesia, keselamatan adalah nomor satu. Tidak ada toleransi, tidak ada kompromi, baik pelanggan perempuan maupun laki-laki," katanya di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026).
Bobby menjelaskan kebijakan pemisahan gerbong khusus perempuan dilakukan dengan pertimbangan agar akses penumpang perempuan dimudahkan.