Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
KPAI Kawal Hak Pemulihan Anak Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo
Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek menyisakan duka dalam bagi anak-anak korban. KPAI akan mengawal pemulihan anak-anak.
Ringkasan Berita:
- Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek menyisakan duka dalam bagi anak-anak.
- Tercacat 16 orang penumpang meninggal dunia. Mayoritas korban adalah ibu yang memiliki anak sekaligus pekerja di ibukota.
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pemulihan pada anak-anak yang ibunya menjadi korban kecelakaan ini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek menyisakan duka dalam. Tak hanya keluarga tapi juga anak-anak yang ditinggalkan para korban.
Benturan sangat keras mengakibatkan gerbong paling belakang khusus perempuan itu ringsek.
Baca juga: Insiden KRL Vs KA Argo Bromo Picu Trauma Psikologis, Waspada Jika Mulai Keringat Dingin dan Gemetar
Tercacat 16 orang penumpang meninggal dunia. Mayoritas korban adalah ibu yang memiliki anak sekaligus pekerja di ibukota.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan rasa duka cita pada peristiwa di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam itu.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menegaskan, kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba, tentu membawa situasi kesedihan yang sangat mendalam dan berdampak luar biasa bagi keluarga yang ditinggalkan. Peran-peran perempuan yang menjadi korban tak pernah tergantikan.
"16 korban meninggal adalah perempuan. Mereka bukan sekadar penumpang, mereka bisa jadi adalah tulang punggung ekonomi keluarganya, ibu dari anak-anaknya, dan istri bagi suaminya serta harapan masa depan keluarganya,” ujar Jasra di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Tragedi ini meninggalkan duka dan kecemasan panjang. Salah satunya datang dari Almarhumah Ibu Nuryati, yang berpulang dan meninggalkan anak kembar.
Kondisi masa depan anak-anak yang mendadak kehilangan sosok ibu, serta para suami yang kini harus memikul beban ganda, menuntut perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat dan negara.
Karena itu Jasra mendorong, hak pemulihan dan kehidupannya di ruang keluarga, ruang bekerja, ruang batin anak anaknya (bila memiliki anak) perlu diperhatikan dan diberi dukungan jangka panjang.
Ada juga yang banyak beredar di media sosial tentang seorang ibu yang baru saja masuk kerja pasca cuti melahirkan.
Artinya bila benar informasi tersebut, maka ada seorang bayi yang kehilangan tiba-tiba, ada suami yang kehilangan istri begitu cepat dan tidak pernah dibayangkan. Artinya ada potensi rasa kehilangan, rasa kekosongan yang harus dimitigasi sejak awal.
“Penting untuk segera di asessment ulang, dicek dilapangan, agar tidak ada situasi korban yang tertinggal, yang tidak di ketahui, pasca peristiwa,” harap dia.
Selain korban meninggal, ada sekitar 87 korban luka harus menghadapi masa perawatan, pemulihan fisik, serta guncangan trauma termasuk korban laki-laki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kecelakaan-krl-di-bekasi-timur.jpg)