Iran Vs Amerika Memanas
Harga Minyak Dunia Meroket, Anggota DPR Minta Pertamina Mitigasi Agar APBN Tak Jebol
Firnando meminta PT Pertamina (Persero) segera melakukan mitigasi yang cermat menyusul lonjakan ekstrem harga minyak mentah dunia.
Ringkasan Berita:
- Firnando Hadityo Ganinduto, meminta PT Pertamina (Persero) segera melakukan mitigasi yang cermat menyusul lonjakan ekstrem harga minyak mentah dunia yang menembus 114,36 dollar AS per barel.
- Firnando menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut akan berdampak langsung pada pasokan energi nasional.
- Firnando mengapresiasi langkah antisipatif yang telah diambil oleh Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Hadityo Ganinduto, meminta PT Pertamina (Persero) segera melakukan mitigasi yang cermat menyusul lonjakan ekstrem harga minyak mentah dunia yang menembus 114,36 dollar AS per barel imbas penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Firnando menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut akan berdampak langsung pada pasokan energi nasional, mengingat sekitar 19 persen impor Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia berasal dari kawasan tersebut.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Berlanjut, Eddy Soeparno Minta Waspada Persaingan Impor Migas
"Harapan kami sebagai Komisi VI, Pertamina harus segera melakukan mitigasi-mitigasi yang cermat supaya harga minyak atau BBM di Indonesia tidak naik dan APBN kita juga tidak jebol," kata Firnando kepada Tribunnews.com, Senin (9/3/2026).
Meski demikian, Firnando mengapresiasi langkah antisipatif yang telah diambil oleh Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurut dia, pemerintah telah mengambil sikap strategis dengan mendiversifikasi impor minyak dari negara-negara di luar Timur Tengah.
Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Jika tren kenaikan harga minyak mentah global terus berlanjut tanpa pengendalian, beban subsidi energi yang ditanggung negara akan semakin berat.
"Mengenai harga ini memang harus kita cermati dengan baik. Kalau harga ini semakin naik terus, APBN kita pasti akan jebol, karena kan kita banyak subsidi dari pemerintah. Ini harus diperhatikan betul," tegasnya.
Di sisi lain, Firnando menilai krisis geopolitik dan fluktuasi harga minyak saat ini merupakan teguran keras sekaligus momentum yang tepat bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi.
"Saya rasa ini akan menjadi momentum bagus bagi kita untuk mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT). Kita harus terus mendorong dan menggerakkan energi terbarukan supaya kita tidak terlalu tergantung pada energi fosil," ucap Firnando.
Sebagai langkah jangka pendek dalam menstabilkan harga, ia juga menyarankan pemerintah untuk mengkaji kebijakan pembatasan impor terukur, berkaca pada strategi negara tetangga.
"Mungkin salah satu yang bisa kita lakukan seperti yang Vietnam lakukan kemarin, yakni pembatasan impornya tidak dibuka secara bebas, sehingga harga (domestik) bisa stabil," imbuhnya.
Sebagai informasi, krisis di Selat Hormuz telah memicu gejolak pasar energi global.