Senin, 11 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perang Iran Belum Berakhir, Israel Mau Teheran Bongkar Fasilitas Nuklir

Netanyahu bersikeras perang Iran belum berakhir hingga AS-Israel membongkar fasilitas nuklirnya dan mengambil uranium Iran yang diperkaya.

Tayang:
Tangkap Layar YouTube CBS News
PM ISRAEL NETANYAHU - Tangkapan layar YouTube CBS memperlihatkan wawancara dengan Perdana Menteri Israel Netanyahu pada Minggu (10/5/2026). Ia bersikeras perang Iran belum berakhir hingga AS-Israel membongkar fasilitas nuklirnya dan mengambil uranium Iran yang diperkaya. 

Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang dengan Iran “belum berakhir” meski gencatan senjata masih berlangsung.
  • Netanyahu menyebut Iran masih memiliki uranium yang diperkaya tinggi dan fasilitas nuklir yang harus dibongkar.
  • Ia mengindikasikan bahwa Israel bermaksud untuk memindahkan uranium tersebut dari Iran.
  • Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran terkait program nuklir dan Selat Hormuz.

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang dengan Iran “belum berakhir”, meski gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Teheran masih berlangsung.

Dalam wawancara dengan program 60 Minutes CBS yang ditayangkan Minggu, Netanyahu menyatakan masih banyak target yang menurutnya harus diselesaikan, terutama terkait program nuklir Iran dan pengaruh regional Teheran di Timur Tengah.

“Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi,” kata Netanyahu kepada CBS, Minggu (10/5/2026). 

Ketika ditanya bagaimana uranium tersebut akan dipindahkan, ia menjawab singkat, “Anda masuk, dan Anda mengambilnya keluar.”

Netanyahu mengatakan Israel dan AS telah berhasil melemahkan sebagian kemampuan Iran, termasuk jaringan proksi bersenjata dan kapasitas rudalnya. 

Namun menurutnya, ancaman belum sepenuhnya hilang.

“Kami telah mengurangi banyak hal, tetapi semuanya masih ada, dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Selain itu, Netanyahu juga menyinggung kemungkinan perubahan besar di Iran jika konflik berkepanjangan terus terjadi.

Menurutnya, jatuhnya pemerintahan Republik Islam Iran dapat berdampak langsung pada kelompok-kelompok sekutu Teheran di kawasan, seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

“Apakah perubahan rezim mungkin terjadi? Ya. Apakah itu dijamin? Tidak,” katanya.

Baca juga: Dipimpin Inggris, 40 Negara Bahas Rencana Militer di Selat Hormuz, Apa Kata Iran?

IAEA: Iran Masih Menyimpan 970 Pon Uranium

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya memperingatkan bahwa Iran masih memiliki uranium yang diperkaya hingga tingkat mendekati bahan pembuat senjata nuklir.

Lembaga itu memperkirakan Teheran masih menyimpan sekitar 970 pon (sekitar 440 kilogram) uranium dengan tingkat pengayaan tinggi, mendekati kadar yang bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Dalam program nuklir, uranium harus “diperkaya” agar kadar isotop uranium-235 meningkat. Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir sipil biasanya cukup sekitar 3–5 persen.

Namun Iran disebut telah memperkaya uranium hingga sekitar 60 persen, yang dianggap sangat dekat dengan tingkat senjata nuklir (sekitar 90 persen).

Karena itu, persediaan uranium tersebut dianggap sensitif dan berbahaya oleh negara-negara Barat. Mereka khawatir Iran bisa dengan cepat meningkatkan pengayaan menjadi level senjata jika memutuskan membuat bom nuklir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved