Kenali Jenis-jenis Kekerasan, Mayoritas Pelaku Justru Orang Terdekat
Pelaku bisa berasal dari anggota keluarga, pasangan, hingga orang di lingkungan sekitar. Misalnya ayah kandung, ayah tiri, paman, kakek atua kakak
Ringkasan Berita:
- Kekerasan berbasis gender masih banyak dialami perempuan dan sering terjadi di lingkungan terdekat korban.
- Lebih dari 80 persen pelaku merupakan orang yang dikenal, seperti keluarga, pasangan, atau orang di sekitar.
- Bentuknya beragam, mulai dari kekerasan fisik, psikis, dalam hubungan pasangan, hingga kekerasan berbasis gender secara online.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius yang dialami banyak perempuan. Bentuknya tidak selalu terlihat secara jelas, bahkan sering terjadi di lingkungan yang paling dekat dengan korban.
Psikolog sekaligus Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Livia Iskandar menjelaskan, bahwa kekerasan dapat terjadi di berbagai tempat, baik di ranah pribadi maupun di ruang publik.
Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa sebagian besar kasus justru terjadi di lingkungan terdekat.
Menurut dia, selama ini banyak orang diajarkan untuk berhati-hati terhadap orang asing.
Namun kenyataannya, justru orang yang dikenal oleh korban adalah pelakunya.
“Jika melihat data yang ada, lebih dari 80 persen pelaku kekerasan adalah orang yang dikenal oleh korban,” jelasnya dalam kegiatan di Jakarta, baru-baru ini.
Pelaku bisa berasal dari anggota keluarga, pasangan, hingga orang di lingkungan sekitar. Misalnya ayah kandung, ayah tiri, paman, kakek, kakak, tetangga, guru, hingga pasangan seperti pacar, mantan pacar, suami, atau mantan suami.
Karena terjadi di lingkungan dekat, korban sering merasa sulit untuk melapor atau keluar dari situasi tersebut.
Berikut jenis-jenis kekerasan yang perlu diketahui:
1. Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik adalah bentuk kekerasan yang paling mudah dikenali karena meninggalkan luka pada tubuh. Contohnya seperti memukul, menampar, menendang, atau tindakan lain yang menyakiti secara fisik.
Namun, dampaknya tidak hanya pada tubuh. Korban juga bisa mengalami trauma dan rasa takut berkepanjangan.
2. Kekerasan Psikis atau Emosional
Jenis kekerasan ini sering tidak terlihat karena tidak meninggalkan luka fisik. Padahal dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan mental korban.
Contohnya adalah menghina, merendahkan, memanipulasi perasaan, mengancam, atau membuat korban merasa tidak berharga.
Baca juga: Komnas HAM Minta Polisi Harus Menahan Diri Dalam Sengketa Agraria, Hindari Kekerasan
Dalam beberapa hubungan, kekerasan psikis juga muncul dalam bentuk kontrol yang berlebihan, seperti melarang korban bertemu keluarga, teman, atau melakukan hobinya.
Karena sering dibungkus sebagai bentuk “perhatian”, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan.
3. Kekerasan dalam Hubungan Pasangan
Kekerasan dalam hubungan pasangan atau intimate partner violence merupakan salah satu yang paling sering terjadi.
Cirinya adalah hubungan yang tidak sehat.
Biasanya ada siklus yang terjadi, dimulai dari konflik atau kekerasan, kemudian pelaku meminta maaf, diikuti dengan fase “bulan madu” di mana pelaku bersikap sangat baik, memberi hadiah, atau menunjukkan penyesalan.
Setelah itu, kekerasan bisa terjadi lagi dan siklus ini berulang dalam jangka waktu lama.
Kondisi ini membuat korban sering merasa bingung dan sulit keluar dari hubungan tersebut.
4. Kekerasan Berbasis Gender Online
Bentuknya berupa pelecehan di media sosial, komentar yang merendahkan, cyberbullying, hingga cyberstalking.
Dalam beberapa kasus, penyebaran foto atau informasi pribadi tanpa izin dapat memberikan dampak serius bagi korban.
Jejak digital yang sulit dihapus juga bisa mempengaruhi kehidupan korban di masa depan, misalnya ketika mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan.
Tekanan psikologis akibat kekerasan online bahkan dapat memicu stres berat, menyakiti diri sendiri, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.
"Tidak mudah bagi korban untuk keluar dari situasi kekerasan. Banyak faktor yang membuat korban bertahan, seperti ketergantungan emosional, tekanan sosial, hingga rasa takut.
Karena itu, dukungan dari lingkungan sekitar sangat penting," ujar dia.
Edukasi kepada masyarakat juga menjadi langkah awal untuk mencegah kekerasan.
Pendidikan publik sangat penting agar masyarakat bisa mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat atau red flag.
Selain itu, lingkungan yang suportif juga dibutuhkan agar korban merasa aman untuk bercerita dan mencari bantuan.
Memahami berbagai bentuk kekerasan adalah langkah awal untuk mencegahnya.
Baca juga: Mahasiswa Undip Dikeroyok 30 Rekannya, Anggota DPR Adde Rosi: Kampus Jangan Toleransi Kekerasan
Ketika masyarakat semakin sadar bahwa kekerasan tidak selalu terlihat secara fisik, diharapkan lebih banyak orang dapat mengenali tanda-tandanya lebih dini.
Dengan edukasi, dukungan lingkungan, serta sistem perlindungan yang kuat, rantai kekerasan dapat diputus dan korban bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Dalam momentum International Women’s Day 2026, L’Oréal Indonesia menegaskan perannya dalam mendorong kemajuan perempuan dengan ajakan untuk bergerak bersama: menghadirkan rasa aman sebagai fondasi, membuka akses terhadap peluang yang setara, serta memberikan pengakuan atas kontribusi perempuan di berbagai bidang.
Perempuan Indonesia harus terus menunjukkan kemajuan yang membanggakan di berbagai bidang, mulai dari jurnalistik, diplomasi, sains, hingga industri kreatif.
Rasa aman adalah fondasi Kemajuan.
Data CATAHU Komnas Perempuan 2024 mencatat 445.502 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) di Indonesia sepanjang 2024, meningkat lebih dari 43.000 kasus dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas kasus terjadi di ranah personal dengan 309.516 kasus, disusul ranah publik atau komunitas sebanyak 12.004 kasus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kekerasan-berbasis-gender-masih-menjadi-persoalan-serius.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.