Rabu, 29 April 2026

Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Pemerintah Percepat Pemulangan 3 Jenazah TNI yang Gugur di Lebanon

Upacara pelepasan jenazah 3 personel penjaga perdamaian Indonesia dilaksanakan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Kamis kemarin.

Tayang:
Penulis: Taufik Ismail
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/Dok. Kemlu RI
REPATRIASI JENAZAH TNI DARI LEBANON - Pemerintah mempercepat repatriasi 3 personel penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam misi UNIFIL dalam serangan Israel di Lebanon. Upacara pelepasan jenazah ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia telah dilaksanakan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Kamis, 2 April 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah berupaya mempercepat repatriasi 3 personel penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam misi UNIFIL dalam serangan Israel di Lebanon
  • Upacara pelepasan jenazah ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia telah dilaksanakan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Kamis kemarin.
  • Indonesia menilai serangan beruntun Israel terhadap pasukan TNI dalam misi UNIFIL disengaja untuk melemahkan dan menggagalkan mandat UNIFIL di Lebanon.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah berupaya mempercepat repatriasi atau pemulangan jenazah tiga personel penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dalam serangan Israel di Lebanon pada 29 dan 30 Maret 2026.  Pemulangan jenazah diharapkan dapat dilakukan dalam pekan pertama April 2026.

"Repatriasi merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi para prajurit yang gugur, sekaligus wujud tanggung jawab negara kepada keluarga yang ditinggalkan. Doa dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia menjadi penguat dalam mengiringi kepulangan para pahlawan bangsa," ujar Kementerian Luar Negeri RI, Jumat (3/4/2026).

Upacara pelepasan dan penghormatan jenazah ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia telah dilaksanakan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon pada Kamis 2 April kemarin.

Upacara dipimpin langsung oleh Force Commander UNIFIL sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian mereka dalam menjaga perdamaian dunia.

Pemerintah Indonesia terus berkoordinasi erat dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memastikan proses repatriasi dapat berlangsung secara cepat, aman, dan lancar.

Proses repatriasi dalam situasi konflik memiliki tantangan tersendiri. Dalam kondisi normal, perjalanan dari Beirut ke Jakarta memerlukan waktu setidaknya 17 jam.

Namun, saat ini intensitas kontak senjata di berbagai titik kawasan, termasuk akibat meningkatnya serangan Israel di Lebanon Selatan, tidak hanya menimbulkan keterbatasan pergerakan, tetapi juga menjadikan setiap langkah sebagai pertaruhan keselamatan.

“Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan proses pemulangan berjalan dengan sebaik-baiknya,” dikutip dari siaran pers Bakom RI.

Baca juga: Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Tiba di Tanah Air Besok

Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur, dan Praka Farizal Rhomadhon adalah tiga prajurit penjaga perdamaian Indonesia yang gugur saat menjalankan tugas di Lebanon.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menyatakan amarah dan duka cita mendalam atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaian di Lebanon.

Ungkapan tersebut disampaikan Wakil Tetap Indonesia untuk PBB Umar Hadi kala mengawali pernyataannya di rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York, Selasa (31/1) waktu setempat.

Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Eks UNIFIL: Israel Langgar Aturan Perlindungan Pasukan Perdamaian

"Kami tidak dapat menerima terbunuhnya penjaga perdamaian tersebut. Ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga kehilangan besar bagi kita semua," kata Umar Hadi.

Indonesia menilai serangan beruntun Israel terhadap pasukan TNI dalam misi UNIFIL disengaja untuk melemahkan dan menggagalkan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi DK PBB 1701 terkait gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. 

Atas dasar itu, Indonesia menuntut penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan transparan, serta meminta DK PBB memantau dan menindaklanjuti hasilnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved